Tag: JF3

  • Rizkya Batik Semarakkan JF3, Persembahkan MIMO Koleksi Terbaru untuk Perempuan Aktif, Terutama Ibu Menyusui

    Rizkya Batik Semarakkan JF3, Persembahkan MIMO Koleksi Terbaru untuk Perempuan Aktif, Terutama Ibu Menyusui

    Parade show JF3 Fashion Festival pada hari ketiga menghadirkan peserta dan Alumni Program PINTU Incubator berkolaborasi dengan student Ecole Duperré. Setiap desainer akan membawakan koleksinya masing-masing di La Piazza Fashion Tent, Summarecon Mall Kelapa Gading. Salah satunya, Rizkya Batik dengan bangga mempersembahkan MIMO, koleksi terbaru yang dirancang khusus untuk perempuan aktif, terutama para ibu menyusui. MIMO sendiri bermakna panggilan seorang ibu dari anak tercinta.

    “Terinspirasi dari kekuatan dan kelembutan perempuan, MIMO menggabungkan keindahan batik tradisional dengan potongan modern yang fungsional dan elegan. MIMO adalah refleksi dari keinginan perempuan untuk tetap tampil stylish tanpa mengesampingkan peran penting mereka,” ungkap Designer and Marketing Communications Rizkya Batik Widya Chandra.

    Koleksi ini menggunakan bahan batik tulis hasil pengrajin batik Solo yang berkualitas tinggi dengan sentuhan warna indigo alam dan hijau kuning yang menenangkan, serta fitur busui friendly seperti bukaan tersembunyi. Rizkya Batik mengundang semua perempuan untuk merayakan babak baru dalam hidup mereka, dengan mengenakan busana yang mengakar pada budaya, namun melangkah ke masa depan.

    Widya melanjutkan, “Ada enam koleksi yang ditampilkan malam ini. Memakai motif batik komtemporer pengembangan dari motif dasar buketan. Batik yang dipakai dikoleksi MIMO adalah batik tulis, kolaborasi Rizkya dengan  pengrajin Solo, Jawa Tengah.” Batik tulis ini menggunakan pewarnaan alami dari tumbuhan-tumbuhan seperti warna biru dari indigo, coklat dari tanah, dan kuning dari tumbuhan buah jolawe dengan bahan katun.

    “Rizkya Batik berdiri sejak tahun 2010. Berawal dari minimnya brand batik dengan kualitas bagus dan model fashion yang terkini di Solo. Namun, kebutuhan masyarakat akan baju batik yang memiliki kualitas bagus dan tetap fashionable sangat tinggi. Hal inilah yang menjadi dasar untuk mendirikan Rizkya Batik dengan berbekal kemampuan sang founder di bidang produksi fashion serta pengetahuan batik yang diturunkan dari keluarga,” ujar Direktur Operasional Rizkya Batik Novana Sandra.

    Rizkya Batik hadir tidak hanya sebagai usaha yang menyediakan pakaian, tetapi juga turut serta melestarikan budaya batik Nusantara sebagai ciri khas bangsa. Untuk mengajak masyarakat memakai batik bukan hanya untuk paksaan, tetapi untuk kebutuhan fashion yang diminati setiap saat.

    Novana melanjutkan, “Saat ini 90% tenaga kerja batik Rizkya adalah kaum Hawa. Kami bekerjasama dengan ibu rumah tangga dan penyandang disabilitas di sekitar wilayah Solo yang membantu kami menghasilkan produk berkualitas. Rizkya Batik memastikan para penyandang disabilitas ini bekerja dengan produktivitas yang sama dengan pekerja normal. Kami juga telah melakukan upaya untuk ikut menjaga kelestariannya. Misalnya, mengurangi penggunaan plastik, menggunakan bahan pewarna batik yang ramah lingkungan.”

    Dalam menjalankan bisnisnya, Rizkya Batik juga bekerjasama dengan pengrajin batik dari daerah di Indonesia. “Kami percaya, bahwa bekerja sama akan membuat merek berjalan lebih cepat dan bertahan lebih lama. Bahan yang kami gunakanan dalam produksi adalah hasil kerjasama antara Rizkya Batik dengan pergrajin Indonesia mulai dari bahan katun, viscose, ATBM  atau Alat Tenun Bukan Mesin dan masih banyak lainnya lagi,” tutup Novana. (Red. Elmediora | Foto: Dok. Rizkya Batik)

  • JF3 Fashion Festival 2025 Dorong Para Desainer Berevolusi & Menglobal Tanpa Kehilangan Akar Warisan Budaya

    JF3 Fashion Festival 2025 Dorong Para Desainer Berevolusi & Menglobal Tanpa Kehilangan Akar Warisan Budaya

    Melalui tema “Recrafted: A New Vision”, JF3 memperbarui komitmennya terhadap kreativitas, keahlian, dan keberlanjutan, mendorong para desainer untuk menembus batas, berinovasi dan bertransformasi tanpa kehilangan akar.  Memasuki dekade ketiga, JF3 Fashion Festival 2025 melangkah ke era baru dengan semangat yang lebih kuat. Tema ini menjadi sebuah gerakan yang mengajak seluruh pelaku industri untuk mendefinisikan ulang warisan budaya sebagai kekuatan di masa depan.

    Bagi Thresia Mareta, penasihat JF3 sekaligus pendiri LAKON Indonesia, tema ini menyuarakan pesan penting bahwa fashion tidak hanya tentang pakaian.  “Kami percaya bahwa fashion bukan sekadar benda, tapi mengandung arti yang sangat luas, mencakup bahasa, warisan, seni, norma, etika, dan ilmu. Esensinya terletak pada keterampilan tangan. Namun agar tradisi bisa terpelihara, ia harus terus berkembang,” ujar Thresia.

    “Sering kali kita terjebak dalam kenyamanan, dan hal ini membuat kita berjalan di tempat. JF3 hadir sebagai ruang kolaboratif yang mengedepankan inovasi dan perubahan, sebuah platform dan semua pihak bisa bertumbuh bersama serta saling memperkuat. Recrafted: A New Vision bukan hanya sekadar tema. Ini adalah sebuah gerakan dan waktunya untuk kita bergerak lebih jauh dengan derap langkah yang baru,” lanjut Thresia.

    Global Partnership Makin Meluas & Berkembang

    JF3 2025 akan kembali digelar di dua lokasi, yakni pada 24–27 Juli di Summarecon Mall Kelapa Gading, dan 30 Juli–2 Agustus di Summarecon Mall Serpong. Festival ini akan menampilkan sebanyak 45 desainer dan brand, menghadirkan koleksi dari para kreator lokal terkemuka seperti Howard Laurent, Adrie Basuki, Sofie, Hartono Gan, Ernesto Abram, hingga LAKON Indonesia. Berbagai brand yang juga turut berpartisipasi diantaranya Metamorph by Zack, Be Spoke, Brilianto, Nes By HDK, Asha, Abbey by Ariy Arka, dan Future Loundry.

    Salah satu highlight dari JF3 2025 adalah kerjasama internasional yang semakin luas dan berkembang. Hal ini menjadi sebuah diplomasi budaya dan upaya untuk menembus ekosistem pasar mode global. Selain menampilkan karya para desainer internasional, JF3 juga menghadirkan kolaborasi kreatif antara desainer luar dengan brand mode Indonesia. Salah satunya, Victor Clavelly, desainer muda Prancis yang pernah berkolaborasi dengan berbagai figur global terkemuka seperti Rick Owens, Katy Perry, FKA Twigs hingga Beyoncé. Dalam JF3 Fashion Festival, Victor Clavelly bersama Héloïse Bouchot akan berkolaborasi dengan LAKON Indonesia.

    Selain itu, presentasi karya mode Prancis lainnya akan diwakili dengan kehadiran desainer-desainer muda berbakat, seperti Solène Lescouët yang karyanya pernah menjadi bagian dari perayaan Olimpiade Paris. Hingga Ornella Jude Ferrari, dan Louise Marcaud yang pernah menjajaki karir di berbagai brand mode internasional. JF3 tahun ini juga menjalin kerjasama yang lebih dalam dengan institusi luar negeri seperti École Duperré Paris, hingga WSN sebagai penyelenggara Paris Trade Show melalui kerjasama dengan DRP Paris.

    Untuk kawasan ASEAN, JF3 kembali bekerjasama dengan AFDS (ASEAN Fashion Designers Showcase), yang menghadirkan Nicky Vu dari Vietnam, Bandid Lasavong dari Laos, serta Pitnapat Yotinratanachai dari Thailand. Tahun ini, untuk pertama kalinya JF3 memperluas ruang kolaborasi internasional dengan menghadirkan desainer Korea Selatan yang mewakili inovasi industri mode Asia yang terus berkembang. Chung Hoon Choi, Lee Joon Bok, dan Baek Ju Hee, masing-masing akan menampilkan karyanya dari brand mode yang tidak hanya dikenal di Korea Selatan, namun juga telah menembus fashion global.

    Regenerasi Pelaku Industri Mode Turut Diupayakan

    Untuk mendukung desainer dan brand dari sisi retail, Niwasana by Fashion Village kembali hadir di Summarecon Mall Kelapa Gading dari 24 Juli hingga 3 Agustus 2025 dengan menghadirkan lebih dari 50 brand terkurasi, meliputi kategori ethnic apparel, modern apparel, dan perhiasan.

    Sementara di Summarecon Mall Serpong, JF3 kembali menggandeng DRP Paris untuk menyelenggarakan Code Street by DRP Jakarta, festival streetwear dan budaya urban asal Prancis. Kini memasuki edisi keduanya, dengan waktu pelaksanaan yang lebih panjang, dari 30 Juli hingga 10 Agustus 2025. Regenerasi pelaku industri mode juga turut diupayakan, JF3 tahun ini memperkenalkan Future Fashion Award. Program ini memberikan dukungan finansial serta mentoring bisnis kepada dua brand muda yang terpilih melalui proses seleksi berbasis proposal bisnis yang solid.

    Brand terpilih akan menjalani proses pendampingan intensif bersama LAKON Indonesia untuk memperkuat eksekusi, kapasitas produksi, dan membangun sistem pendukung yang kuat. Future Fashion Award menjadi wujud konkret dari komitmen JF3 untuk membangun ekosistem fashion yang sehat dan berkelanjutan dari hulu hingga hilir. Sementara PINTU Incubator, program inkubasi yang dinisiasi JF3, LAKON Indonesia dan Kedutaan Besar Prancis melalui IFI, memasuki tahun ke-4 penyelenggaraannya menunjukan hasil yang semakin nyata. (Red. Elmediora.com | Foto: Dok. JF3)

  • Perkuat Kolaborasi Indonesia-Prancis, PINTU Incubator Kenalkan Residency Program Pererat Hubungan Kreatif Dua Negara

    Perkuat Kolaborasi Indonesia-Prancis, PINTU Incubator Kenalkan Residency Program Pererat Hubungan Kreatif Dua Negara

    Semakin berperan lebih dalam pada program bilateral yang strategis, PINTU Incubator kembali mendukung kreator muda dua negara yaitu Indonesia dan Prancis. PINTU mengulas capaian selama tiga tahun terakhir, sekaligus memperkenalkan program terbarunya: Residency Program. Ini dirancang sebagai langkah baru mempererat hubungan kreatif dua negara melalui pendekatan langsung dan kolaboratif.

    Sejak diluncurkan pada 2022, PINTU Incubator telah menjadi wadah pengembangan bagi desainer muda melalui proses kurasi, mentoring professional, pertukaran budaya, pengalaman profesional, dan eksposur ke pasar global, program ini menghubungkan para desainer muda dengan para ahli, institusi, dan ekosistem kreatif dari kedua negara. Dalam tiga tahun, PINTU telah menjaring lebih dari 10.000 brand yang tertarik, memilih 51 peserta terinkubasi, dan melibatkan 86 mentor ahli,  termasuk 33 dari Prancis.

    Apresiasi Terus Mengalir

    Sebagai bagian dari penguatan kerja sama internasional, PINTU menandatangani MoU kerjasama dengan École Duperré Paris, salah satu institusi seni dan mode terkemuka di Prancis. Penandatanganan yang dilakukan oleh Thresia Mareta, co-initiator PINTU Incubator dan Alain Soreil, Direktur École Supérieure des Arts Appliqués Duperré. Berlangsung pada 28 Mei 2025 di Rumah Tradisional Kudus, Bentara Budaya, dan disaksikan langsung oleh Menteri Kebudayaan Prancis Rachida Dati serta Chairman JF3 Soegianto Nagaria.

    Thresia Mareta, Co-initiator PINTU Incubator sekaligus Founder LAKON Indonesia, menyampaikan rasa syukur atas apresiasi yang terus mengalir dari berbagai pihak, termasuk kunjungan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati dan dukungan langsung dari pemerintah Prancis. Presiden Emmanuel Macron secara khusus menyampaikan dukungannya terhadap program PINTU saat berpidato 29 Mei lalu di Candi Borobudur, menyebutnya sebagai bentuk nyata kerja sama budaya yang perlu terus dikembangkan. “Saat Presiden Macron menyebut langsung program PINTU dalam pidatonya di Candi Borobudur, saya menyadari bahwa itu bukan hanya pengakuan atas program kami, tapi juga simbol kuat bahwa budaya, pendidikan, dan kreativitas bisa menyatukan dua bangsa.” ujar Thresia Mareta, Co-initiator PINTU Incubator dan Founder LAKON Indonesia.

    Tahun 2025 menjadi tonggak baru bagi PINTU Incubator dengan diluncurkannya Residency Program, sebuah program residensi untuk desainer muda Prancis yang dirancang untuk menciptakan pertemuan langsung antara kreativitas Prancis dan kekayaan budaya Indonesia. Selama tiga bulan. peserta akan tinggal dan berkarya di 2 wilayah Indonesia, mempelajari teknik batik di Jawa dan mengeksplorasi tenun tradisional di wilayah timur Indonesia.

    Tahun ini, dua desainer muda Prancis yang terpilih adalah Kozue Sullerot dan Priscille Berthaud. Keduanya magang di LAKON Indonesia, berkolaborasi menciptakan koleksi lintas budaya yang nantinya akan dipresentasikan di LAKON Store dan ajang bergengsi Premiere Classe Paris.

    “Residency Program ini adalah langkah nyata kami untuk memperdalam kolaborasi lintas budaya. Melalui program ini mereka langsung bekerja dengan para artisan dan melakukan proses kreatif bersama. Mereka bukan hanya mendapat pelatihan teknis, tapi juga mendapatkan pengalaman profesional dan personal,” ujar Thresia Mareta.

    Dorong Lahirnya Brand-brand Potensial

    Chairman JF3 dan Co-initiator PINTU Incubator, Soegianto Nagaria, turut menyoroti perjalanan PINTU sebagai bagian dari komitmen jangka panjang JF3 dalam membina industri mode Indonesia. “Selama lebih dari dua dekade, JF3 terus mendorong pertumbuhan talenta muda, mengembangkan bisnis fashion, mengangkat pengrajin dan karya tangan tradisional, dan membuka peluang kolaborasi lintas industri dan lintas negara. Konsistensi ini mencerminkan komitmen kami untuk membangun ekosistem yang hidup dan berkelanjutan. Kami tidak hanya merayakan kreativitas, kami berinvestasi di dalamnya dan mengarahkannya ke pasar nyata serta eksposur global,” ujarnya.

    Menurut Soegianto, setelah tiga tahun berjalan, PINTU Incubator tidak hanya memenuhi ekspektasi, tetapi telah menjadi platform penting dalam mendorong lahirnya brand-brand potensial dengan perspektif internasional. Dalam kesempatan yang sama, PINTU Incubator juga mengumumkan enam brand yang akan tampil di JF3 Fashion Festival 2025, yaitu: CLV, Dya Sejiwa, Lil Public, Nona Rona, Rizkya Batik, dan Denim It Up.

    Sebagai hasil dari proses inkubasi selama enam bulan, ketiga brand ini akan mempresentasikan koleksi dalam sebuah show kolaboratif bertajuk “Echoes of the Future by PINTU Incubator featuring École Duperré”, yang akan diselenggarakan pada Minggu, 27 Juli 2025 pukul 16.30 WIB di Summarecon Mall Kelapa Gading, sebagai bagian dari rangkaian JF3 Fashion Festival 2025. Kolaborasi ini juga akan melibatkan tiga siswa dari École Duperré Paris: Pierre Pinget, Bjorn Backes, dan Mathilde Reneaux.

    Melalui koleksi bersama yang akan ditampilkan, para desainer dari Indonesia dan Prancis akan merayakan perpaduan antara nilai-nilai tradisional dan semangat inovasi. Dengan serangkaian program dan pencapaian yang terus berkembang, PINTU Incubator berdiri sebagai model inkubasi mode yang tidak hanya relevan, tetapi juga visioner. PINTU bukan sekadar program pelatihan, melainkan PINTU antar bangsa, antar generasi, dan antar pemikiran. Di sinilah masa depan mode Indonesia dibentuk: kolaboratif, berakar budaya, dan siap menembus dunia. (Red. Elmediora | Foto: Dok. PINTU Incubator)

  • Tak Sekadar Panggung Mode, JF3 2025 Fokus Bangun Ekosistem Fashion Lebih Dinamis & Berkelanjutan

    Tak Sekadar Panggung Mode, JF3 2025 Fokus Bangun Ekosistem Fashion Lebih Dinamis & Berkelanjutan

    Memasuki dekade ketiga, JF3 Fashion Festival kembali hadir dan berkomitmen lebih dari sekadar panggung mode. Tahun 2025 fokus diperluas untuk membangun ekosistem fashion Indonesia yang lebih dinamis dan berkelanjutan. Dengan melibatkan desainer muda, model, jurnalis, hingga kreator, JF3 hadir untuk memberdayakan generasi penerus yang akan membawa industri mode Indonesia ke masa depan.

    Diselenggarakan oleh Summarecon dengan dukungan penuh dari pemerintah, pelaku industri fashion, mitra strategis nasional dan internasional, JF3 2025 akan berlangsung di dua lokasi utama. Di Summarecon Mall Kelapa Gading, fashion show akan digelar pada 24–27 Juli 2025, disusul oleh Niwasana by Fashion Village, sebuah pameran mode yang berlangsung hingga 3 Agustus. Sementara itu, Summarecon Mall Serpong akan menggelar fashion show pada 30 Juli–3 Agustus 2025, dengan pameran DRP Jakarta hingga 10 Agustus 2025.

    Recrafted a New Vision: Redefining Indonesia’s Competitive Edge in the Global Market. 

    JF3 Talk 2025 (Vol.1) yang berlangsung di Teras Lakon Summarecon Serpong pada 7 Mei 2025 menjadi bagian penting dalam membahas tema besar JF3 untuk tahun 2025: Recrafted a New Vision: Redefining Indonesia’s Competitive Edge in the Global Market. Diskusi ini menjadi langkah awal untuk mendorong seluruh pelaku industri untuk terus berperan aktif dalam membentuk ekosistem fashion Indonesia yang lebih matang, kolaboratif, dan kompetitif di pasar global.

    Merupakan ajakan untuk melihat kembali keterampilan kita dan menyusunnya ulang dengan visi yang lebih kuat, bukan hanya dari sisi artistik, tapi juga strategis. Keahlian yang tinggi dibutuhkan untuk pengembangannya, sehingga tidak terjebak dalam pengulangan yang membuat kita berjalan di tempat. “Saat ini kita tidak lagi perlu bertanya mengenai pandangan dunia, yang paling kita butuhkan. Sejak dulu adalah sejauh mana kita bisa melangkah dengan visi yang kita miliki. Kami mengajak semua kreator untuk melakukan perubahan. Mendorong batas dan mewujudkan apa yang tidak terlihat menjadi sebuah kenyataan. Membawa semua keterampilan yang kita miliki menjadi sebuah visi baru,” ujar Thresia Mareta, Founder Lakon Indonesia dan Advisor JF3.

    Tantangan Para Desainer Dalam Negeri Dalam Berkarya dan Pertahankan Bisnis

    Moderator JF3 Talk Vol.1 Dino Augusto berpendapat sekarang ini daya beli masyarakat terhadap produk lokal masih rendah, sementara produk impor justru kian membanjiri pasar. Diperlukan strategi yang lebih kuat dalam mengangkat brand lokal, agar mampu bersaing secara sehat di dalam negeri.

    Elok dari Brand Dola’ap Kebaya berterus terang dunia mode sekarang ini tengah menghadapi tantangan ekonomi. “Termasuk penerapan produk sustainable atau upcycle seperti seni cenderung sulit meyakinkan konsumen untuk membeli barang berbahan bekas. Diperlukan brand image yang kuat dan strategi komunikasi yang tepat, mengingat konsumen saat ini cenderung price-sensitive, sehingga sulit menjual produk sustainable dengan harga premium, karena kesadaran konsumen masih rendah terhadap nilai keberlanjutan,” ungkap Elok.

    Sementara, bagi Afif dari Brand ControlNew yang berdiri sejak 2018 masalah SDM menjadi kendala tersendiri dan baru dapat membentuk tim produksi setelah menghadapi tantangan besar dalam hal keterbatasan SDM. Dia berkata, “Awalnya, dia memanfaatkan tukang vermak sebagai pelaku upcycle, kemudian berkembang menjadi tim produksi yang lebih solid. Baginya, permasalahan  utama adalah keterbatasan bahan baku dan SDM dan tidak semua jenis kain dapat diolah untuk produksi upcycle. Itulah sebabnya, fokus utama brand tidak hanya pada upcycling denim, tapi juga menciptakan artikel baru yang memiliki nilai tambah dan dapat dijual dengan harga lebih tinggi.”

    Selain itu, Dalam proses desain, Afif menemukan dilema antara menciptakan desain simpel yang lebih mudah diproduksi dari kain sisa dan kebutuhan pasar akan desain yang unik dan menarik. “Target market harus ditentukan sejak awal dan keberhasilan strategi sangat bergantung pada ketajaman market intelligence. Anak muda saat ini mulai peduli pada desain dan harga, namun belum sepenuhnya sadar atau memperhatikan nilai di balik produk, misalnya proses upcycle. Itulah sebabnya, pendekatan branding yang dilakukan adalah menarik perhatian pasar melalui desain dan harga terlebih dahulu, lalu baru kita mengedukasi soal nilai dan proses upcycle,” tambahnya.

    Tantangan terbesar yang harus dihadapi para pelaku di dunia fashion menurut Astrela dari brand Bespoke adalah perubahan tren yang sangat cepat. Industri mode dituntut untuk memahami keinginan pasar, sambil tetap mempertahankan DNA brand dan forecast trend menjadi penting, agar bisa menggabungkan konsep brand dengan keinginan pasar. Sementara, Laura Muljadi berpendapat, “Masyarakat luar negeri bisa menghargai produk natural, tapi pengrajin lokal justru kurang mendapatkan spotlight di negeri sendiri.  Kebutuhan ekonomi mendesak membuat pengrajin kadang beralih ke bahan non-natural atau bahkan berhenti menenun, karena produk kreasinya tidak laku dan adanya ketimpangan akses pasar antara Jakarta dan daerah.”

    Sulawesi Selatan memiliki kekayaan motif seperti aksara Lontara, namun belum berhasil dikenal secara nasional dan hingga saat ini belum ada produsen batik yang secara konsisten mengangkat motif khas tersebut. Pasar lokal di Sulsel lebih didominasi oleh peminat tenun, sementara dia  ingin memperkenalkan batik sebagai bagian dari identitas budaya Sulsel dengan menggali motif-motif yang berbeda.

    “Saat ini, sistem penjualan kami masih terbatas melalui e-commerce dan WhatsApp, jadi belum ada penetrasi signifikan ke pasar nasional karena terbatasnya eksposur. Kami membutuhkan pentingnya dukungan dan sorotan lebih besar terhadap brand-brand dari luar Jawa agar bisa bersaing dan dikenal luas. Selain itu, tantangan lainnya adalah minimnya pengolahan limbah dan kesiapan SDM untuk mendukung produksi dalam skala besar,” ujar Ayu Gani dari brand Batik Sulawesi menerangkan permasalahannya.

     


    Berkolaborasi Bersama dan Berkarya dengan Produk Berkualitas

    JF3 pun berharap seluruh pelaku industri dapat berperan aktif secara bersama-sama agar lebih semangat lagi dalam membangun ekosistem fesyen Indonesia untuk kolaborasi, bertukar pikiran, dan terus berkarya dengan kualitas yang lebih matang. Ke depan, Theresa akan semakin fokus untuk menjalin hubungan internasional demi mendukung kemajuan industri fesyen lokal dan berharap endapat dukungan penuh dari berbagai pihak termasuk pemerintah. Tahun ini, JF3 mengundang salah satu desainer dari Korea Selatan sebagai bagian dari kolaborasi dua arah. Jadi, tidak hanya mereka yang datang ke Indonesia, tapi partisipan festival yang sudah terselenggara sejak 2004 itu juga akan bertandang ke Negeri Ginseng. Berkolaborasi secara nasional dan internasional akan memperkuat dan memajukan dunia fashion di Tanah Air tetap eksis, sekaligus berujung menunjang perekonomian bangsa yang diwujudkan secara gotong royong. (Ells | Foto: Dok. JF3)