Category: Health

  • Plester Hidrokoloid Super Tipis Hansaplast Second Skin Protection, Perlindungan luka yang Praktis & Stylish

    Plester Hidrokoloid Super Tipis Hansaplast Second Skin Protection, Perlindungan luka yang Praktis & Stylish

    Dengan pengalaman lebih dari 100 tahun dan kepercayaan dari jutaan keluarga di seluruh dunia, Hansaplast memperkenalkan Second Skin Protection. Plester generasi baru yang super tipis dan dirancang khusus untuk mempercepat penyembuhan luka dengan kenyamanan menyerupai kulit kedua. Produk ini dirancang khusus untuk menjawab kebutuhan konsumen modern akan perlindungan luka yang praktis, stylish, dan tetap mendukung gaya hidup aktif.

    Berdasarkan data Usage and Attitude – Regular Wound Plasters 2021, banyak orang masih menganggap luka kecil tidak perlu dirawat serius. Faktanya, 49% masyarakat masih enggan menggunakan plester, karena masih banyak sekali mitos mengenai perawatan luka. Salah satu mitos yang paling terkenal adalah luka tidak perlu ditutup, karena memperlambat penyembuhan. Selain itu, konsumen juga menginginkan plester yang bisa memenuhi semua kebutuhan mereka di aktivitas mereka yang aktif dan padat.

    Marketing Manager Healthcare PT Beiersdorf Indonesia, Yosephine Carolline, menyampaikan “Hansaplast Second Skin Protection, plester inovatif yang tidak hanya melindungi luka, tetapi juga mempercepat penyembuhan melalui Teknologi Healing Capsule. Mengusung desain hidrokoloid super tipis pertama di dunia dan Indonesia, plester ini terasa seperti ‘kulit kedua’ saat digunakan. Dengan keunggulan 100% kedap air, transparan, fleksibel, dan mampu merekat kuat hingga 72 jam, plester ini menjaga kenyamanan sekaligus mendukung penyembuhan optimal. Didesain untuk menyerap cairan luka dan menciptakan suasana lembab (moist) yang kondusif untuk regenerasi kulit, pengguna tetap bisa tampil stylish, percaya diri, dan aktif tanpa terganggu oleh luka.”

    Hansaplast Second Skin Protection Launching ini dimeriahkan dengan talkshow bersama influencer ternama seperti Tamara Dai dan Bobby Saputra, yang membagikan pengalaman pribadi mereka saat menggunakan produk ini. Kehadiran health expert, dr. Kevin Mak, juga menegaskan pentingnya perawatan luka modern dengan perlindungan maksimal sejak awal.

    “Sebagai orang dengan aktivitas yang padat, saya sering mengalami luka kecil. Tentunya hal ini sangat berpengaruh terhadap penampilanku sebagai beauty influencer. Sekarang, Hansaplast Second Skin Protection jadi andalanku karena sangat nyaman, super tipis, tidak kelihatan saat dipakai, dan tetap menempel meski aku banyak bergerak. Tidak ada lagi drama merasa insecure saat pakai plester dan saya tetap bisa tampil kece” ungkap Tamara Dai, Influencer dan Beauty Enthusiast.

    Bobby Saputra, seorang Influencer dan Content Creator, turut membagikan pengalamannya menggunakan Hansaplast Second Skin Protection. “Saya sering menghadiri meeting dengan berbagai kalangan penting, jadi penampilan harus selalu prima dan luka tidak boleh jadi penghalang. Saya butuh plester yang tidak hanya melindungi, tetapi juga mempercepat penyembuhan agar bisa segera kembali produktif. Hansaplast Second Skin Protection jadi pilihan tepat, karena teknologi healing capsule-nya membantu luka lebih cepat sembuh. Paling saya suka, plester ini super tipis seperti kulit kedua, jadi tak kelihatan dan tidak mengganggu sama sekali. Tak perlu sering-sering ganti juga, sangat praktis.”

    Dari sisi medis, dr. Kevin Mak menekankan pentingnya plester dengan perlindungan maksimal di fase awal penyembuhan. “Banyak orang masih salah kaprah dengan luka kecil. Padahal, kalau tidak dilindungi dengan tepat, bisa memicu infeksi dan komplikasi yang lebih serius. Plester dengan teknologi hydrocolloid seperti Hansaplast Second Skin Protection ini membantu luka sembuh lebih cepat dengan lingkungan yang tetap bersih dan lembap,” jelas dr. Kevin. (Red. Elmediora | Foto: Dok. Hansaplast Second Skin Protection)

  • Kolaborasi akan Kesadaran, Akses, dan Perawatan Berkelanjutan Diperlukan dalam Menangani Multiple Sclerosis

    Kolaborasi akan Kesadaran, Akses, dan Perawatan Berkelanjutan Diperlukan dalam Menangani Multiple Sclerosis

    Multiple Sclerosis (MS) adalah kondisi penyakit autoimun yang  memengaruhi sistem saraf pusat dan otak. Pada individu dengan MS, sistem imun tubuhnya menyerang selubung myelin yang sebenarnya berfungsi melindungi serabut saraf. Dampak dari rusaknya mielin adalah terganggunya sinyal yang dikirim oleh sel-sel saraf dan seiring berjalannya waktu akan menyebabkan kerusakan permanen.

    Gejala yang dialami penderita MS bisa bervariasi, termasuk kesulitan berjalan, kelemahan otot, dan gangguan penglihatan. Berdasarkan data dari Multiple Sclerosis Federation Atlas of MS menunjukkan bahwa saat ini terdapat 160 kasus MS di Indonesia pada tahun 2020. Sementara, prevalensi MS di Indonesia diperkirakan antara 1-5 penyintas per 100.000 penduduk. Seiring dengan prevalensinya yang relatif rendah, tingkat kesadaran masyarakat terhadap MS pun masih terbatas.

    Hal ini sering kali menyebabkan keterlambatan diagnosis dan penanganan yang berdampak menurunnya kualitas hidup penyintas. Ketua Pokja Neuroinfeksi dan Neuroimunologi Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (Perdosni), Dr. dr. Paulus Sugianto, Sp.N(K) menjelaskan “Diagnosa dan penanganan multiple sclerosis di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, sehingga kolaborasi antara masyarakat, tenaga kesehatan, dan akses penanganan sangat diperlukan untuk meningkatkan kesadaran dan kualitas hidup pasien.”

    Dalam upaya bersama meningkatkan kualitas penanganan MS, peran sektor swasta menjadi sangat penting, baik dalam pengembangan inovasi dan perluasan akses penanganan yang merata bagi pasien MS. Selain itu, peningkatan kesadaran publik juga menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem penanganan MS yang lebih inklusif dan berkelanjutan.


    Multiple Sclerosis Awareness Week 2025 menjadi salah satu rangkaian kegiatan yang melibatkan berbagai pihak. Meliputi pemerintah, tenaga kesehatan, komunitas pasien, hingga masyarakat umum. Keterlibatan berbagai pihak ini diharapkan mampu memicu kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan untuk mendorong perubahan nyata dalam penanganan MS. Karena dukungan kolektif jauh lebih berarti dalam memberikan dampak nyata pada  penanganan MS bagi para penyintas di Indonesia.

    “Kami di Merck meyakini bahwa perjuangan pasien MS adalah perjuangan kolektif yangmemerlukan dukungan dari semua pihak. Untuk itu, kami mendukung semua sektor, dari komunitas, tenaga kesehatan, dan pembuat kebijakan untuk bersama meningkatkan kesadaran dan memperluas akses dalam deteksi dini hingga penanganannya. Melalui MS Awareness Week, kami berharap dapat menciptakan lingkungan yang lebih suportif dan inklusif bagi para penyintas agar mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik” ujar Evie Yulin, President Director PT Merck Tbk.

    Sebagai perusahaan yang berfokus pada inovasi di bidang kesehatan, Merck telah menyelenggarakan berbagai kegiatan dalam program Multiple Sclerosis Awareness Week dengan mengusung tema “Echoing Light, Join the Fight!”. Menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari peluncuran video “A Day in the Life of MS Patient” dan memberikan challenge interaktif kepada masyarakat untuk merasakan gejala MS. Termasuk, webinar bersama @Cantik2Autoimun yang membahas mitos, fakta, dan isu reproduksi pada pasien MS. (Red. Elmediora | Foto: Dok. Merck)

  • Sebagai ‘Ahli-nya Oatm*lk’, OATSIDE Pertemukan Maudy Ayunda Bersama Penggemar di Booth Interaktif PRJ 2025

    Sebagai ‘Ahli-nya Oatm*lk’, OATSIDE Pertemukan Maudy Ayunda Bersama Penggemar di Booth Interaktif PRJ 2025

    Produsen susu nabati terkemuka OATSIDE kembali menghadirkan inovasi pengalaman menikmati susu oat (oatm*lk) melalui kampanye “Ahli-nya Oatm*lk” yang secara langsung bisa dinikmati penikmat setia OATSIDE di Pekan Raya Jakarta (PRJ) 2025. Aktivitas yang berlangsung dari 19 Juni hingga 13 Juli 2025 di JIEXPO Kemayoran ini, turut menghadirkan sesi Meet & Greet dengan Maudy Ayunda selaku Brand Ambassador OATSIDE dan beragam kegiatan interaktif seperti Matcha Making Session, edukasi nutrisi oatm*lk, dan sejumlah aktivitas menarik lainnya.

    Melalui tema ‘Ahli-nya Oatm*lk’, OATSIDE ingin menunjukkan bahwa oatm*lk memiliki kualitas dan nutrisi yang tidak kalah unggul dibandingkan produk susu lainnya, dengan rasa yang tetap enak dan creamy serta cocok dicampur dengan berbagai jenis minuman dan makanan. Kampanye ini sekaligus menjadi ajang untuk memperkenalkan kembali keunggulan nutrisi OATSIDE melalui cara yang lebih seru dan menyenangkan.

    “Sejak pertama kali diluncurkan tiga tahun lalu, OATSIDE berhasil mendapat tempat di hati konsumen Indonesia sebagai satu-satunya oatm*lk yang 100% berbasis nabati dan selalu mengutamakan rasa dan kualitas. Kami yakin bahwa konsumen tidak perlu mengorbankan cita rasa demi manfaat, itulah yang membuat OATSIDE selalu relevan hingga sekarang. Antusiasme luar biasa terhadap varian kopi OATSIDE pada tahun lalu menjadi bukti bahwa pasar Indonesia siap merayakan oatm*lk dalam berbagai bentuk. Lewat partisipasi kami di PRJ 2025, kami ingin terus mendekatkan diri dengan komunitas penikmat OATSIDE dan memperluas akses terhadap oatm*lk berkualitas yang bisa dinikmati kapan saja dan di mana saja—dengan cara yang menyenangkan,” ungkap Founder dan CEO OATSIDE Benedict Lim.

    Sebagai bagian dari acara, pengunjung dapat mengikuti sesi Meet & Greet dengan Maudy Ayunda, Brand Ambassador OATSIDE, yang turut ambil bagian dalam menghadirkan pengalaman yang tidak hanya seru, tapi juga personal. Dalam kesempatan ini, Maudy berbagi cerita seputar rutinitasnya yang salah satunya adalah membuat matcha dengan OATSIDE. Karena memang sebuah kombinasi yang cocok dan OATSIDE menjadi pilihan sehari-hari yang nggak perlu kompromi rasa tapi tetap menawarkan manfaat.

    Dia adalah salah satu sosok pecinta matcha dan oat milk serta senang dengan kegiatan ritual membuat matcha. “Namun, memang kadang-kadang dalam ritual matcha rasanya terlalu pahit, itulah sebabnya saya suka campur dengan Outside agar terasa lebih manis, namun saya suka yang tidak terlalu manis. Kebetulan saya memang sensitif dengan produk dairy dan cenderung lebih cocok menggunakan plant-based milk. Saat tengah sibuk bekerja, minum matcha menjadi mood booster penyemangat diri saya,” ungkap Maudy.

    Dia menjelaskan antusiasmenya terhadap kampanye ‘Ahli-nya Oatm*lk’ yang sejalan dengan semangat hidup sehat Maudy. “Aku percaya bahwa pilihan kecil yang kita buat sehari-hari, seperti memilih oatm*lk yang bisa mendukung memberikan dampak besar untuk kesehatan dan lingkungan. Sama seperti saat aku memutuskan untuk memilih OATSIDE sebagai teman aktivitas sehari-hariku. Senang sekali bisa berbagi energi positif lewat kegiatan ini dan menunjukkan bahwa hidup sehat bisa dimulai dari hal-hal sederhana,” jelas Maudy.

    Selama kehadiran booth OATSIDE di PRJ Kemayoran tahun ini, pengunjung dapat mampir dan menikmati berbagai keseruan berikut:

    • Meet & Greet dan sesi foto bersama Maudy Ayunda.
    • Cicipi langsung kreasi unik berbahan dasar susu oat OATSIDE seperti matcha,shaved ice, dan masih banyak lagi.
    • Kesempatan mendapatkan sample dan merchandise eksklusif OATSIDE.

    Tidak berhenti sampai di situ, OATSIDE juga turut hadirkan Matcha Making Session, sebuah kolaborasi bersama Feel Matcha dan Maudy Ayunda, mengajak pengunjung berkreasi dan berkolaborasi. Dalam sesi ini, pengunjung diajak langsung meracik minuman berbasis susu oat OATSIDE yang tidak hanya cocok untuk paduan minuman kopi, tetapi juga cocok dipadukan dengan matcha, shaved ice, dan lain-lain, hanya bisa didapatkan di booth OATSIDE di Pekan Raya Jakarta. (Red. Elmediora | Foto: Dok. OATSIDE)

  • RS Pondok Indah Group Kembali Masuk dalam Daftar Rumah Sakit Terbaik Se-Asia Pasifik 2025 Versi Newsweek

    RS Pondok Indah Group Kembali Masuk dalam Daftar Rumah Sakit Terbaik Se-Asia Pasifik 2025 Versi Newsweek

    Newsweek dan lembaga survei Statista kembali memilih RS Pondok Indah sebagai salah satu Best Specialized Hospitals Asia Pacific 2025. Di tahun ini, RS Pondok Indah – Pondok Indah dan RS Pondok Indah–Puri Indah yang berhasil masuk dalam jajaran rumah sakit terbaik se-Asia Pasifik tersebut. RS Pondok Indah – Pondok Indah masuk dalam daftar Best Specialized Hospital Asia Pacific 2025 di tiga kategori spesialisasi yaitu, Ortopedi, Pediatri, dan Kardiologi, satu-satunya rumah sakit di Indonesia yang masuk jajaran Best Specialized Hospitals di tiga kategori.

    Selain RS Pondok Indah – Pondok Indah, RS Pondok Indah–Puri Indah juga berhasil masuk daftar Best Specialized Hospitals Asia Pacific 2025 di bidang Ortopedi. Ini merupakan tahun kedua bagi RS Pondok Indah–Puri Indah untuk menerima pengakuan ini secara berturut-turut.

    Best Specialized Hospitals Asia Pacific adalah daftar peringkat rumah sakit khusus terbaik di Asia Pasifik yang dirilis setiap tahun sejak 2022 oleh Newsweek, bekerja sama dengan perusahaan analisis data global Statista. Guna membantu masyarakat menemukan rumah sakit yang paling sesuai dengan kebutuhan medis mereka. Daftar tersebut menampilkan rumah sakit-rumah sakit terkemuka di kawasan Asia Pasifik yang meliputi Australia, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, dan Filipina dalam berbagai bidang spesialisasi.

    Pemilihan Asia Pacific’s Best Specialized Hospitals dilakukan melalui penilaian dari tiga sumber data. Yaitu, hasil survei online ribuan tenaga kesehatan di Asia Pasifik, sertifikasi yang relevan dengan spesialisasi rumah sakit baik internasional maupun nasional, kualitas rumah sakit secara umum. Termasuk, Survei Statista PROM yang berpartner dengan International Consortium for Health Measurement (ICOM) untuk menilai masing-masing rumah sakit.

    “Masuknya RS Pondok Indah – Pondok Indah dan RS Pondok Indah – Puri Indah dalam tiga kategori Best Specialized Hospitals Asia Pacific 2025 versi Newsweek akan semakin memperkuat komitmen kami dalam memberikan layanan kesehatan berstandar internasional dengan dukungan tim dokter terbaik dan teknologi medis terdepan di dalam negeri,” ujar Chief Executive Officer (CEO) RS Pondok Indah Group, dr. Yanwar Hadiyanto, MARS.

    RS Pondok Indah Group terus berupaya untuk meningkatkan layanan kesehatannya melalui pembaruan fasilitas dalam menunjang center of excellence. Layanan komprehensif dengan dukungan teknologi medis terkini tersedia di Klinik Pediatri/Klinik Anak, Pondok Indah Heart Center (layanan kardiologi). Termasuk layanan spesialisasi ortopedi yang tersedia di RS Pondok Indah–Pondok Indah dan di RS Pondok Indah–Puri Indah. Center of excellence ini merupakan representasi dari tiga bidang spesialis (pediatri, kardiologi dan ortopedi). Mengantarkan RS Pondok Indah ke jajaran rumah sakit terbaik Asia Pasifik 2025. (Red. Elmediora | Foto: Dok. RS Pondok Indah Group)

  • Nikmati Yogurt Pertama Indomilk Kids Diformulasikan Khusus untuk Anak dan Menjadi Pilihan Camilan Sehat

    Nikmati Yogurt Pertama Indomilk Kids Diformulasikan Khusus untuk Anak dan Menjadi Pilihan Camilan Sehat

    Berdasarkan survei terbaru tahun 2024 dari Future Market Insight, lebih dari 78% ibu di Indonesia memprioritaskan camilan sehat sebagai bagian penting dalam rutinitas harian anak1. Melihat kebutuhan tersebut, untuk pertama kalinya di Indonesia, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (Indofood CBP) melalui merek Indomilk Kids, memperkenalkan Indomilk Kids Yogurt, yogurt pertama yang secara khusus diformulasikan untuk anak, menggabungkan rasa lezat yang disukai si kecil dengan nutrisi yang dipercayai oleh para ibu. Yogurt ini hadir sebagai jawaban atas kebutuhan nyata para orang tua yang semakin sadar akan pentingnya gizi seimbang dan pilihan camilan sehat dengan porsi yang tepat bagi tumbuh kembang anak.

    Vanda Ratana, General Marketing Manager Indomilk Susu Cair Divisi Dairy Indofood CBP, dalam peluncuran Indomilk Kids Yogurt di Mommy n’ Me 2025, Jakarta International Convention Center (JICC) menyampaikan, “Hari ini kami tidak sekedar memperkenalkan produk baru, tapi menghadirkan langkah baru

    dalam mendefinisikan ulang standar yogurt sebagai camilan sehat anak di Indonesia. Indomilk Kids Yogurt adalah wujud dari komitmen kami terhadap gizi yang benar-benar dipikirkan untuk anak, bukan hanya versi mini dari produk dewasa. Karena buah hati Anda layak mendapatkan yang terbaik untuk tumbuh kembang mereka; yang lezat, bergizi, dan dibuat khusus untuk mereka.”

    Dalam sesi konferensi pers bertemakan “Taste Kids Love, Nutrition Moms Trust: A Yogurt Made Just for Kids”, Indomilk juga menghadirkan momen simbolis berupa penandatanganan Snack Contract, sebuah bentuk komitmen bersama antara Indomilk, para ibu, dan anak untuk menghadirkan, memberikan, dan mengonsumsi camilan sehat setiap hari.

    “Menggunakan susu berkualitas dari New Zealand, kadar gulanya sedikit, sumber vitamin dan kalsium yang esensial untuk mendukung pertumbuhan, dan porsinya yang pas untuk anak, Indomilk Kids Yogurt menjawab problematika para ibu dan mengedukasi bahwa tidak semua yogurt dibuat sama. Anak-anak membutuhkan sesuatu yang memang diformulasikan untuk mereka,” ungkap Tjatur Lestijaman, General Manager RND Health & Wellness Divisi Dairy Indofood CBP.

    Bunda Shofi, Ibu dari scientist cilik jenius yang viral di TikTok, turut hadir dalam acara peluncuran menuturkan, “Sebagai seorang ibu yang juga bekerja, saya paham betul tantangan memilih camilan yang praktis tapi tetap bergizi untuk anak. Apalagi saat anak sedang pilih-pilih makanan, rasanya sulit menyeimbangkan antara yang disukai anak dan yang saya anggap cukup sehat. Produk seperti Indomilk Kids Yogurt bisa menjadi solusi harian yang seimbang, dan anak saya suka. Gizinya ada dan rasanya juga enak.”

    Sementara itu, Dokter dan Konselor Laktasi & MPASI, dr. Deva Putriane, CPHCT menambahkan, “Saat berbicara soal camilan anak, yang sering luput diperhatikan adalah keseimbangan gizi dan dampaknya dalam jangka panjang, terutama dari kandungan gula dan pengolahan produk itu sendiri. Saya mengapresiasi setiap upaya untuk menghadirkan produk dengan gizi dan porsi yang pas untuk anak, termasuk Indomilk Kids Yogurt yang bisa menjadi salah satu pilihan dengan kadar gulanya sedikit. Namun, yang paling penting tetap edukasi bagi orang tua agar mereka tidak hanya membaca kemasan, tetapi benar-benar memahami apa yang dikonsumsi anak sehari-hari.” (Red. Elmediora | Foto: Dok. Indofood CBP)

  • Penyebab, Gejala, dan Solusi Medis Atasi Nyeri Lutut pada Lansia

    Penyebab, Gejala, dan Solusi Medis Atasi Nyeri Lutut pada Lansia

    Usia senja seringkali membawa serta berbagai keluhan kesehatan, dan salah satu yang paling umum adalah nyeri lutut. Rasa sakit yang menusuk, kaku, atau bahkan bengkak pada lutut dapat sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, menurunkan kualitas hidup, dan membatasi kemandirian para lansia. Lantas, mengapa nyeri lutut begitu sering menghampiri mereka?

    Penuaan & Perubahan Sendi

    Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami berbagai perubahan degeneratif, tak terkecuali pada persendian lutut. Konsultan Lutut & Pinggul Eka Hospital BSD dr. Ricky Edwin P Hutapea, Sp.OT (K) Hip and Knee mengatakan, “Sendi lutut merupakan persendian terbesar dan paling kompleks dalam tubuh, bertugas menopang berat badan dan memungkinkan berbagai gerakan seperti berjalan, berlari, dan menekuk kaki. Proses penuaan membawa beberapa perubahan signifikan pada sendi lutut.” Menurutnya perubahan yang terjadi antara lain:

    • Penipisan tulang rawan:Tulang rawan adalah jaringan halus dan licin yang melapisi ujung tulang di dalam sendi, berfungsi sebagai bantalan dan mengurangi gesekan saat bergerak. Seiring waktu, tulang rawan dapat menipis dan kehilangan elastisitasnya, suatu kondisi yang dikenal sebagai osteoartritis atau pengapuran sendi.
    • Penurunan produksi cairan sinovial:Cairan sinovial adalah pelumas alami sendi yang membantu pergerakan halus dan memberikan nutrisi pada kartilago. Produksi cairan ini cenderung menurun pada lansia, menyebabkan gesekan antar tulang semakin besar.
    • Pelemahan otot dan ligamen:Otot-otot di sekitar lutut, seperti otot paha dan betis, serta ligamen yang menstabilkan sendi, juga dapat kehilangan kekuatan dan elastisitas seiring bertambahnya usia. Hal ini membuat lutut menjadi kurang stabil dan lebih rentan terhadap cedera.

    Penyebab Umum Nyeri Lutut pada Lansia

    Selain perubahan degeneratif akibat penuaan, dr. Ricky berpendapat beberapa kondisi lain juga dapat menjadi penyebab umum nyeri lutut pada lansia:

    • Osteoartritis (OA):Ini adalah penyebab nyeri lutut kronis yang paling sering terjadi pada lansia. Kerusakan kartilago menyebabkan tulang saling bergesekan, menimbulkan rasa sakit, kaku, dan pembengkakan.
    • Artritis reumatoid (RA):Merupakan penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan pada lapisan sendi (sinovium). RA dapat menyerang banyak sendi, termasuk lutut, dan menimbulkan nyeri, bengkak, kemerahan, serta kekakuan.
    • Gout :Kondisi ini disebabkan oleh penumpukan kristal asam urat di persendian, termasuk lutut. Serangan gout ditandai dengan nyeri hebat, kemerahan, panas, dan pembengkakan yang datang tiba-tiba.
    • Pseudogout (Kondrokalsinosis):Mirip dengan gout, namun disebabkan oleh penumpukan kristal kalsium pirofosfat di sendi. Gejalanya meliputi nyeri, kaku, dan pembengkakan pada lutut.
    • Cedera lutut lama:Cedera lutut di masa muda, seperti robekan meniskus atau ligamen, dapat meningkatkan risiko terjadinya nyeri lutut kronis di kemudian hari.
    • Bursitis:Peradangan pada bursa, yaitu kantung berisi cairan yang berfungsi sebagai bantalan antara tulang, otot, dan tendon di sekitar lutut. Bursitis dapat menyebabkan nyeri dan pembengkakan lokal.
    • Tendinitis:Peradangan pada tendon, yaitu jaringan yang menghubungkan otot dengan tulang. Tendinitis pada tendon di sekitar lutut dapat menyebabkan nyeri saat bergerak.

    Gejala Perlu Diwaspadai

    Lansia perlu waspada dan segera berkonsultasi dengan dokter, jika mengalami gejala nyeri lutut berikut:

    • Nyeri yang parah dan tidak membaik dengan istirahat.
    • Pembengkakan, kemerahan, atau rasa hangat pada lutut.
    • Kekakuan lutut yang signifikan, terutama di pagi hari atau setelah beristirahat.
    • Lutut terasa tidak stabil atau mengunci saat bergerak.
    • Demam yang menyertai nyeri lutut.
    • Kesulitan berjalan atau melakukan aktivitas sehari-hari akibat nyeri lutut.

    Solusi Medis untuk Atasi Nyeri Lutut pada Lansia

    Penanganan nyeri lutut pada lansia akan disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahannya. Beberapa solusi medis yang mungkin direkomendasikan meliputi:

    • Obat-obatan:

    * Obat pereda nyeri (analgesik) seperti paracetamol.

    * Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) seperti ibuprofen atau naproxen.

    * Obat-obatan untuk mengatasi artritis spesifik, seperti obat antirematik untuk  RA atau obat penurun asam urat untuk gout.

    * Onjeksi kortikosteroid ke dalam sendi lutut untuk mengurangi peradangan dan nyeri.

    • Terapi fisik:Latihan peregangan dan penguatan otot di sekitar lutut dapat membantu meningkatkan stabilitas sendi, mengurangi nyeri, dan meningkatkan rentang gerak.
    • Alat bantu:Penggunaan alat bantu seperti tongkat atau penyangga lutut (knee brace) dapat membantu mengurangi tekanan pada lutut dan meredakan nyeri saat berjalan.
    • Operasi:Jika nyeri lutut sangat parah dan tidak membaik dengan penanganan konservatif, operasi mungkin menjadi pilihan. Beberapa jenis operasi yang umum dilakukan pada lansia dengan nyeri lutut meliputi:

    * Arthroscopy: Prosedur invasif minimal untuk memperbaiki kerusakan pada meniskus atau ligamen.

    * Osteotomy: Prosedur untuk meluruskan tulang di sekitar lutut yang  mengalami kerusakan akibat artritis.

    *  Penggantian Sendi Lutut Total (Total Knee Replacement/TKR):  Prosedur di mana sendi lutut yang rusak diganti dengan sendi buatan (prostesis).

    TKR dengan alat Velys

    Eka Hospital sebagai pelopor rumah sakit dengan teknologi advance menghadirkan inovasi terkini dalam operasi penggantian sendi lutut dengan menggunakan alat Velys Robotic-Assisted Total Knee Replacement. Teknologi ini membantu & memungkinkan ahli bedah untuk melakukan operasi dengan tingkat presisi yang lebih tinggi, sehingga mempercepat pemulihan pasien.

    Keunggulan Velys Robotic TKR

    • Perencanaan operasi yang lebih akurat:Sistem Velys menggunakan data anatomi pasien secara spesifik untuk membuat rencana operasi yang dipersonalisasi.
    • Presisi tinggi:Lengan robotik membantu ahli bedah dalam memposisikan implan sendi dengan akurat, sesuai dengan rencana yang telah dibuat.
    • Recovery pasca operasi lebih cepat: pasien melakukan operasi pagi, siang dapat berdiri dan berjalan.
    • Potensi hasil yang lebih baik:Akurasi yang lebih tinggi dapat meningkatkan fungsi lutut pasca operasi dan mengurangi risiko komplikasi.

    Dengan penanganan yang tepat, lansia dapat kembali bergerak aktif dan menikmati kualitas hidup yang lebih baik. (Elly | Foto: Dok. Istimewa)

  • Tak Hanya Menyerang Lanjut Usia, Katarak Bisa Menghampiri Orang Muda dan Anak-anak

    Tak Hanya Menyerang Lanjut Usia, Katarak Bisa Menghampiri Orang Muda dan Anak-anak

    Katarak memang lekat dengan kalangan lanjut usia. Namun terdapat jenis-jenis katarak yang bisa pula menyerang orang yang lebih muda, bahkan anak-anak. Menurut Dr. Kevin, SpM dari KMN EyeCare, “Semua jenis katarak ini tidak mematikan, tapi sama-sama berpotensi membahayakan penderita dan orang-orang di sekelilingnya. Sebagai langkah pencegahan, kita perlu mengetahui apa saja jenis masalah penglihatan ini.”

    Katarak Nuklear Sklerosis

    Ini jenis katarak yang paling umum terjadi karena pertambahan usia. Karena itu, banyak orang berusia lanjut yang mengalaminya. Katarak nuklear sklerosis ditandai dengan kekeruhan, penguningan, dan pengerasan pada bagian tengah lensa mata atau nukleus. Seiring dengan bertambahnya usia, nukleus pun bertambah keruh.

    Katarak Kortikal

    Nama jenis katarak ini mengacu pada lokasi kekeruhan di mata, yakni korteks atau lapisan selubung luar lensa. Kekeruhan bermula dari pinggir lensa, lalu berkembang masuk dalam bentuk sulur-sulur mirip ruji roda sepeda melingkar. Diabetes menjadi salah satu faktor pemicu katarak kortikal.

    Katarak Posterior Subkapsular

    Dari sederet jenis-jenis katarak, katarak posterior subkapsular adalah salah satu yang paling cepat berkembang, hanya dalam beberapa bulan. Katarak ini terjadi pada bagian belakang lensa di dekat kapsul posterior dan lebih banyak dialami orang berusia muda. Orang yang sering mengonsumsi steroid lebih berisiko mengalami masalah penglihatan ini. 

    Katarak Bawaan atau Kongenital

    Jenis katarak ini termasuk penyakit bawaan yang bisa diketahui ketika bayi lahir. Jika katarak ini tak terdeteksi saat bayi, ada risiko kehilangan penglihatan seiring dengan bertambahnya usia. Katarak bawaan dapat muncul tanpa penyebab pasti, tapi paling sering berkaitan dengan penyakit infeksi saat kehamilan, seperti rubela.

    Katarak Morgagni

    Ketika korteks menjadi lembek dan cair hingga nukleus tenggelam di dasar lensa, berarti katarak telah

    encapai tahap lanjut. Dalam istilah medis, istilahnya adalah katarak Morgagni, berasal dari nama patologis anatomi dari abad ke-18, Giovanni Battista Morgagni. Bertambahnya usia dan paparan sinar matahari menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap jenis katarak ini.

    Katarak Diabetes

    Sesuai dengan namanya, orang yang mengidap diabetes rentan terkena jenis katarak ini. Tingginya kadar gula darah menyebabkan oksidasi dalam lensa mata yang menyerupai butiran salju. Katarak diabetes juga cepat memburuk dan mengganggu penglihatan.

    Katarak Polikromatik atau Pohon Natal

    Ini satu dari beberapa jenis-jenis katarak yang jarang terjadi. Seperti namanya, pada lensa mata orang yang mengalami jenis katarak ini terlihat seakan-akan ada warna cemerlang layaknya lampu pohon Natal. Penyebab pasti katarak polikromatik belum diketahui. Beberapa penelitian tentang katarak pohon Natal menyebut kolesterol sebagai faktor pemicunya.

    Katarak Polar Posterior

    Kondisi permukaan belakang lensa yang keruh menjadi salah satu tanda katarak jenis ini. Ketika kekeruhan masih sedikit, gejalanya belum terasa. Tapi ketika sudah membesar, penglihatan akan sangat terganggu. Jenis katarak ini juga bisa terjadi karena penyakit bawaan.

    Katarak Traumatik

    Berbeda dengan jenis-jenis katarak lain, penyebab katarak ini berasal dari luar, yakni luka serius pada mata akibat pukulan atau benda tajam. Katarak traumatik mungkin baru diketahui beberapa tahun setelah luka terjadi. Namun, dalam sejumlah kasus, luka itu bisa menyebabkan katarak dalam waktu beberapa hari saja.

    Katarak Putih

    Katarak putih adalah kondisi ketika katarak sudah mencapai stadium lanjut. Lensa menjadi sangat keruh hingga berwarna putih dan keras. Karena itu, butuh ahli bedah yang amat berpengalaman untuk mengoperasi jenis katarak ini.

    Meski penyebab katarak dan indikasinya berbeda-beda, semua 10 jenis-jenis katarak tersebut sama berbahayanya. “Katarak dapat menyebabkan kebutaan total. Pada stadium awal atau menengah pun penglihatan akan sangat terganggu sehingga menyusahkan kegiatan sehari-hari penderitanya. Kecuali katarak bawaan dan traumatik, salah satu cara mencegah munculnya jenis-jenis katarak itu adalah menerapkan gaya hidup sehat. Selain itu, pemeriksaan mata rutin dapat membantu deteksi dini demi menekan risiko bahayanya dan memperbesar peluang kesembuhan,” tutup Dr. Kevin. (Nadia | Foto: Istimewa)

  • Setelah Bogor, ChildFund International Lanjutkan Percepatan Penurunan Stunting di Kupang & Sumba Barat Daya

    Setelah Bogor, ChildFund International Lanjutkan Percepatan Penurunan Stunting di Kupang & Sumba Barat Daya

    Program Percepatan Penurunan Stunting (ASRP) ini sukses menurunkan angka stunting di beberapa wilayah di Kota Bogor dari 35,9% menjadi 28,6%. ChildFund International di Indonesia mendukung upaya pemerintah menurunkan stunting melalui program berbasis masyarakat.

    Hal ini disampaikan oleh Siti Aisah, Health Specialist ChildFund International di Indonesia dalam kegiatan diseminasi capaian ASRP yang berlangsung di Kupang, 11 Juni 2025. ASRP yang dirilis pada tahun 2022 merupakan kelanjutan dari  keberhasilan inisiatif sebelumnya, yaitu Bapak Ibu Anak Tangguh Kota Bogor (Batagor) yang berlangsung di Bogor dari tahun 2020 – 2021.

    Program ini bertujuan untuk menurunkan prevalensi stunting dan isu malnutrisi lainnya dengan melibatkan pemangku kepentingan lokal utama, termasuk TPPS (Tim Percepatan Penurunan Stunting), Bapperida, Dinas Kesehatan, puskesmas, pemerintah daerah, dan relawan masyarakat terlatih,” ujar Icha, panggilan akrabnya. ASRP berfokus pada optimalisasi 1.000 hari pertama kehidupan bagi anak usia 0–23 bulan di wilayah perkotaan dan perdesaan, salah satunya di Kota Bogor, Jawa Barat. Program ini mempromosikan pengasuhan yang responsif, peningkatan gizi anak dan perubahan perilaku berkelanjutan di tingkat masyarakat.

    “ASRP berkontribusi pada penurunan angka stunting dari dari 35,9% menjadi 28,6%. Program ini juga membantu penurunan gizi buruk berat dari 9,4% menjadi 3,2% dan gizi buruk dari 26,6% menjadi 12,7%.  Sementara angka anak dengan berat badan sangat kurang menurun dari 21,9% menjadi 14,3%,” ujar FE. Eriyanto, Pimpinan Yayasan Warga Upadaya, mitra inti ChildFund International di Indonesia di wilayah Bogor.

    Pencapaian ini menunjukkan dampak pendekatan berbasis masyarakat yang berakar pada konteks dan kemitraan lokal. Program tersebut sudah mendapat pengakuan dari Pemerintah Kota Bogor. “Kegiatan ini memberikan tiga hal kepada masyarakat. Pertama, edukasi terhadap pola asuh kepada anak, pengetahuan gizi bagi keluarga dan memberikan gambaran terkait dengan pengembangan upaya penurunan stunting,” ujar Rudy Mashudi, Kepala Bapperida Kota Bogor.

    Kesuksesan program ini mendorong ChildFund International di Indonesia menggagas replikasi program di Kota Kupang dan Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur melalui Yayasan Masyarakat Cita Madani sebagai mitra inti.  Tahap awal implementasi ditandai dengan mempromosikan pengasuhan yang responsif. Sebanyak 267 dari 311 orang tua (85,9%) dan pengasuh mengalami peningkatan  pengetahuan tentang gizi anak dan pengasuhan. Sementara 37 (100%) kader masyarakat meningkat pengetahuan dan kapasitasnya.

    “Dukungan dari berbagai pemangku kepentingan memegang peranan yang sangat penting dalam menjamin keberlanjutan program ini, mulai dari keluarga, masyarakat, pemerintah daerah, puskesmas, Bapperida, Dinas Kesehatan, DP3A, dan pihak terkait lainnya,” tambah Silvester Seno, Pimpinan Yayasan Cita Masyarakat Madani. (Red. Elmediora | Foto: Dok. ChildFund)

  • Sembuhkan Luka dengan Nyaman Berkat Inovasi Terbaru Hansaplast Second Skin Protection Super Tipis Hadir

    Sembuhkan Luka dengan Nyaman Berkat Inovasi Terbaru Hansaplast Second Skin Protection Super Tipis Hadir

    Dengan pengalaman lebih dari 100 tahun dan kepercayaan dari jutaan keluarga di seluruh dunia. Hansaplast memperkenalkan Second Skin Protection, plester generasi baru yang super tipis dan dirancang khusus untuk mempercepat penyembuhan luka dengan kenyamanan menyerupai kulit sendiri. Produk ini hadir secara luas di Watsons Indonesia yang merupakan jaringan ritel kecantikan dan kesehatan terkemuka di Asia yang selalu mendukung gaya hidup sehat dan aktif masyarakat Indonesia.

    Meski terkadang tidak dianggap serius, luka kecil bisa berdampak besar jika tidak ditangani dengan tepat. Namun berdasarkan data Usage and Attitude – Regular Wound Plasters, 2021,  49% masyarakat masih tidak menggunakan plester saat mengalami luka karena menganggap plester tidak nyaman, mudah lepas, dan harus sering diganti. Padahal kenyataannya, perlindungan sejak awal sangatlah penting untuk mencegah infeksi dan mempercepat proses penyembuhan.

    Hansaplast Second Skin Protection merupakan inovasi terbesar perusahaan di tahun 2025. Hasil dari riset mendalam untuk menjawab kebutuhan konsumen modern akan plester yang tidak hanya mempercepat proses penyembuhan luka, tetapi juga memberikan kenyamanan maksimal. “Dilengkapi teknologi canggih Healing Capsule Technology, plester hidrokoloid ini 100% kedap air, super tipis, fleksibel mengikuti gerakan tubuh, dan mampu merekat kuat hingga 72 jam, memungkinkan pengguna tetap aktif tanpa khawatir plester lepas atau basah. Produk ini dirancang khusus untuk mendukung gaya hidup aktif masyarakat Indonesia. Kini dapat dengan mudah diperoleh melalui Watsons Indonesia, sebagai bagian dari komitmen Hansaplast untuk menjadikannya sebagai pilihan no 1 untuk perawatan luka sehari-hari,” ujar President Director PT. Beiersdorf Indonesia Sawan Malik.

    Tamara Dai, Fashion & Active Lifestyle Influencer menambahkan, “Luka sekecil apapun pastinya akan mengganggu penampilan dan aktivitas saya. Bagi saya, Plester Hansaplast Second Skin Protection ini menjadi terobosan baru dan unik bagi kita semua yang tetap mau tampil stylish walaupun lagi terluka. Fitur transparan dan super tipisnya tentunya menjadi andalan utama saya. Selain itu, dengan teknologi Healing Capsule yang memungkinkan lebih rendahnya resiko terbentuknya bekas luka juga menjadi faktor utama mengapa saya kini mempercayakan masalah luka saya ke inovasi baru ini. Jadi, Hansaplast Second Skin Protection bukan hanya soal perlindungan, tapi kenyamanan dan kemudahan dalam menjalani gaya hidup yang aktif.”

    “Watsons Indonesia bangga dapat menjadi mitra Hansaplast dalam menghadirkan inovasi Second Skin Protection kepada masyarakat luas. Kami selalu berkomitmen menyediakan produk-produk berkualitas yang mendukung gaya hidup sehat dan aktif. Dengan kehadiran produk ini di jaringan kami, kami berharap dapat memudahkan masyarakat untuk mendapatkan solusi perawatan luka yang praktis, nyaman, dan efektif,” tutup Ita Karo Karo, Head of Marketing Watsons. (Red. Elmediora | Foto: Dok. Beiersdorf Indonesia)

  • Stimulasi Perkembangan Otak Anak Generasi Alpha dan Beta dalam Ajang S-26 Exceptional League

    Stimulasi Perkembangan Otak Anak Generasi Alpha dan Beta dalam Ajang S-26 Exceptional League

    Generasi Alpha dan Beta sebagai generasi pertama yang tumbuh sepenuhnya di era globalisasi dan perkembangan teknologi yang pesat, memiliki potensi yang exceptional menjadi generasi yang purposeful dan impactful, yaitu “anak hebat” yang digerakkan oleh tujuan jelas untuk membuat perubahan dan dampak positif bagi dunia. Wyeth Nutrition S-26 melalui kampanye #SemuaBisaJadiHebat menegaskan keyakinan bahwa semua anak bisa jadi hebat dengan dukungan gizi dan stimulasi yang tepat.

    Sebagai wujud nyata, S-26 mempersembahkan “S-26 Exceptional League”, event pembelajaran imersif pertama di Indonesia dengan konsep “Futuristic City”. Terdiri dari rangkaian aktivitas yang membantu proses belajar Generasi Alpha melalui beragam stimulasi untuk mengeksplorasi potensi hebat mereka sekaligus mendukung berbagai aspek perkembangan otak. Menyusul kesuksesan di Medan, Jakarta menjadi kota pelaksanaan kedua yaitu di Main Atrium Mall Kota Kasablanka, pada 30 Mei-1 Juni 2025. Event ini menghadirkan kecanggihan teknologi “S-26 Exceptional Brain Visualizer” yang membantu Mams memonitor aktivitas pada area-area penting di otak Si Kecil secara real-time.

    “S-26 percaya perjalanan Si Kecil menjadi hebat dimulai dari dukungan hebat seorang ibu atau Mam. Melalui kampanye #SemuaBisaJadiHebat, kami berkomitmen untuk terus mendampingi Mams membimbing Generasi Alpha dan Beta yang siap dan sukses menghadapi tantangan masa depan, terlebih karena Mams memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran seumur hidup atau lifelong learning yang mereka jalani bersama si Kecil, yaitu dalam hal pemberian gizi dan stimulasi yang tepat,” ujar Vera Niki Gozali, Category Marketing Manager Wyeth Nutrition S-26 (30-05-2025).

    Untuk itu, kampanye ini menekankan pentingnya proses “Multilearn Connect” yang terdiri dari dua pilar: (1) “Multi-learning” atau ragam pembelajaran yang didapatkan Si Kecil melalui berbagai bentuk stimulasi yang tepat. Lalu, (2) “Brain Connection” berupa gizi tepat yang dibutuhkan Si Kecil agar perkembangan di area-area penting otaknya bisa optimal dan saling terkoneksi dengan baik.

    Samanta Elsener, M.Psi, Psikolog Anak dan Keluarga menuturkan, “Seiring ilmu pengetahuan yang makin berkembang dan dunia yang terus berubah, multi-learning penting dilakukan Generasi Alpha dan Beta. Agar mampu mengeksplorasi beragam pengetahuan dan keterampilan di berbagai bidang. Nantinya Si Kecil bisa saling mengkoneksikan semua pembelajaran yang didapatkan untuk memecahkan masalah secara holistik, terus mengembangkan diri, serta memberikan dampak positif ke sekitarnya. Peran Mams dalam memberikan stimulasi yang tepat sangat penting sehingga Si Kecil dapat memiliki berbagai karakter hebat seperti rasa ingin tahu yang tinggi, kreatif, kolaboratif, berdaya juang, dan mampu menyelesaikan masalah – menjadikan mereka sebagai generasi yang future-ready di tengah perubahan pesat masa depan.”

    Lebih lanjut, salah satu expert, dr. Ian Suteja Sp.A, menjelaskan, “Saat Si Kecil melakukan multi-learning, diperlukan mielinasi yang optimal, yaitu proses di mana sel-sel saraf di otak dilapisi oleh lapisan lemak yang disebut mielin. Layaknya jalan tol, lapisan ini memungkinkan ‘kendaraan’ yaitu sel saraf bergerak cepat dan lancar. Sedangkan sel saraf yang tidak termielinasi dengan baik seperti jalanan biasa yang membuat ‘kendaraan’ berjalan lambat karena banyak hambatan. Untuk menunjang proses ini, Mams perlu memberikan gizi yang tepat, yaitu kombinasi formulasi gizi yang TEPAT dan telah teruji klinis seperti Spingomielin, Fosfolipid dan Alfa-laktalbumin, dengan kadar atau jumlah yang TEPAT, serta diberikan pada waktu yang TEPAT sesuai usia Si Kecil di periode emasnya.” (Red. Elmediora | Foto: Dok. Wyeth Nutrition S-26)