Category: Fashion

  • Susan Budihardjo Fashion Forward Institute Suguhkan Tema Controversy Penuh Eksplorasi Kreatif di JF3 2025

    Susan Budihardjo Fashion Forward Institute Suguhkan Tema Controversy Penuh Eksplorasi Kreatif di JF3 2025

    Susan Budihardjo Fashion Forward Institute kembali hadir di panggung mode bergengsi Jakarta Fashion & Food Festival (JF3) 2025 dengan sebuah pergelaran busana yang penuh eksplorasi kreatif. Mengusung tema “Controversy”, fashion show ini digelar pada 2 Agustus 2025 di Summarecon Mall Serpong menunjukkan komitmennya dalam melahirkan talenta-talenta baru dunia mode.

    Koleksi “Controversy” menampilkan 94 look hasil karya 27 siswa dan siswi dari Susan Budihardjo Fashion Forward Institute. Lewat eksplorasi tema yang berani dan tajam, koleksi ini memadukan elemen-elemen yang kontras maskulin dan feminin, lembut dan keras, tradisional dan modern. Untuk menciptakan harmoni baru dalam sebuah karya busana yang berani, namun tetap dalam estetis.

    “Tema “Controversy” kami angkat sebagai refleksi dari keberanian para desainer muda dalam mengolah perbedaan menjadi kekuatan desain. Ini adalah mereka untuk bicara melalui karya,” ujar perwakilan dari Susan Budihardjo Fashion Forward Institute.

    Sebagai penutup acara, akan ditampilkan sebuah koleksi kolaboratif yang mengusung teknik digital printing bertema grafiti, sebuah bentuk ekspresi urban yang modern dan penuh warna. Koleksi penutup ini menghadirkan 32 look yang menyatukan karakter, teknik, dan semangat eksploratif para desainer dalam sebuah pernyataan kolektif yang kuat.

    Fashion show ini menjadi bukti komitmen Susan Budihardjo Fashion Forward Institute dalam mencetak desainer muda berbakat yang mampu berinovasi, berpikir kritis, dan menghadirkan karya yang relevan dengan zaman. (Red. Elmediora | Foto: Dok. JF3 Fashion Festival 2025)

  • NES by HDK Menonjolkan Keindahan Kain Indonesia, Sekaligus Peduli Gerakan Sosial dan Keberlanjutan

    NES by HDK Menonjolkan Keindahan Kain Indonesia, Sekaligus Peduli Gerakan Sosial dan Keberlanjutan

    Brand fashion premium NES by HDK yang dikenal melalui eksplorasi artistik pada kain tradisional seperti batik dan ikat celup dengan teknik shibori kembali tampil memukau dalam perhelatan JF3 Fashion Festival 2025. Di bawah arahan Helen Dewi Kirana, pendiri sekaligus desainer utama NES, brand ini mempersembahkan koleksi terbaru yang tidak hanya menonjolkan keindahan tekstil Indonesia, tetapi juga mengusung pesan sosial dan keberlanjutan.

    Diluncurkan pada tahun 2014, NES, yang berarti “keajaiban”, telah menjelma menjadi ikon fashion yang memadukan kekuatan lokal, kreativitas handmade, serta komitmen terhadap isu sosial dan lingkungan. Karya NES telah tampil di berbagai panggung dunia, mulai dari Istana Bogor hingga Paris, dari JF3 Jakarta hingga Corcoran Gallery dan Smithsonian, Washington DC.

    Melalui koleksi-koleksi seperti “Batik Baik” yang menggunakan bahan daur ulang dan cap batik dari barang bekas, serta motif ikonik “Pohon Kehidupan”, NES menegaskan komitmennya untuk menghadirkan mode yang berkelanjutan dan sarat makna. Selain itu, NES juga aktif dalam gerakan sosial seperti Gerakan Indonesia Bersih dan kampanye Jakarta Tanpa Sedotan, menjadikan fashion sebagai medium edukasi dan aksi nyata bagi lingkungan.

    “NES adalah tentang merayakan kehidupan, budaya, dan tanggung jawab sosial. Setiap helaian kain menyimpan cerita, dan setiap karya adalah bentuk kontribusi. Dengan berpegang pada empat pilar: Cinta, Edukasi, Lingkungan, dan Seni Budaya, kami ingin menebarkan harapan dan kebahagiaan melalui setiap detail yang kami ciptakan, ” ujar Helen (31-07-2025).

    Partisipasi NES dalam JF3 2025 kali ini menyoroti keindahan kain tenun Makassar. Diharapkan dapat memperkuat posisi kain Indonesia di panggung mode global, sekaligus menginspirasi generasi baru untuk memandang fashion sebagai media perubahan. Dalam peragaan ini, penonton akan disuguhkan perpaduan estetika, tradisi, dan keberlanjutan, identitas kuat yang selalu melekat pada NES. (Red. Elmediora | Foto: Dok. JF3 Fashion Festival)

  • Ketika Craftsmanship Tradisional Batik X Teknologi Digital 3D Printing Menjadi Menyala Saling Menyempurnakan

    Ketika Craftsmanship Tradisional Batik X Teknologi Digital 3D Printing Menjadi Menyala Saling Menyempurnakan

    Bertajuk ‘Altruis/URUB’ yang terinspirasi dari pepatah Jawa ‘Urip iku urub’ hidup itu menyala mewakili makna terdalam dari kehidupan yang altruis: hidup yang menghidupi orang lain, hidup yang berani memberi tanpa pamrih. Menjadi inti kolaborasi LAKON Indonesia dan desainer asal Prancis Victor Clavelly bersama seniman CGI Héloïse Bouchot dalam perhelatan JF3 Fashion Festival ke-21 di Sumarecon Mal Serpong, Tangerang, Banten (30-07-2035).

    “URUB adalah nyala besar yang kami harap dapat menerangi. Setiap helai adalah hasil dari perjalanan panjang penuh pemikiran, dedikasi, dan cinta. Di dalamnya, ada kisah para pengrajin batik dengan pengorbanan dan seni mereka yang tak terukur nilainya. Altruis/Urub adalah refleksi cinta kepada Nusantara, sebuah dedikasi yang lahir dari semangat semesta. Kami mungkin belum bisa menjadi seperti seorang ibu, tetapi melalui kolaborasi dengan para pengrajin, kami ingin menyalakan cahaya bagi ekosistem budaya kain tradisional di Indonesia. Kami juga berharap generasi muda bisa menjadi lebih kuat, kritis, dan lebih solutions. Dunia membutuhkan mereka yang mampu memberi cahaya di tengah gelapnya zaman,” ujar Pendiri LAKON Indonesia Thresia Mareta.

    LAKON yang sarat dengan misi pelestarian budaya Indonesia melalui pendekatan desain dengan sentuhan modern menorehkan rona lokal mendalam pada koleksi URUB. Berkolaborasi dengan para pengrajin Indonesia menghasilkan karya yang kompletatif dan sarat dengan nilai tradisi sekaligus kemanusiaan.

    “Bekerja sama dengan LAKON memberi saya wawasan baru akan kekayaan budaya tekstil Indonesia. Saya mencoba menginterpretasikan makna URUB ke dalam desain, namun tetap menghormati asal-usulnya dan relevan di ranah global,” ujar Viktor yang begitu kagum akan filosofi kain dan busana Indonesia. Ia sebelumnya telah bekerja dengan figur-figur besar seperti Rick Owens, Katy Perry, FKA Twigs, hingga Beyoncé.

    Viktor sendiri menghadirkan 21 busana di panggung JF3 Fashion Festival dengan tema ‘Les Fragments’ yang sebelumnya telah diluncurkan di Paris dalam peragaan busana Men’s Fashion Week. Suasana futuristik bak film fiksi ilmiah sangat terasa, para tamu dibawa masuk ke dalam dunia pasca-antroposen, saat tubuh bersifat hibrida, disusun kembali, berevolusi, dan eksis di antara yang organik maupun buatan. Ia memang dikenal sebagai desainer yang visioner dengan karya-karya yang unik dan berani. Dengan paduan berbagai teknik, koleksi busana Viktor termasuk rumit dan kompleks. Ia mengawali dalam bentuk sketsa tangan, lalu mengubahnya dalam model 2D dan 3D dengan bantuan komputer.

    “Saya terbiasa membangun semesta yang memadukan siluet pahatan, cetak 3D, dan penceritaan melalui busana. Karya saya mengeksplorasi tema anatomi, identitas, dan ingatan yang terfragmentasi, dan saya bersemangat untuk membuka dialog ini dengan masyarakat di Jakarta. Siluetnya menampilkan denim yang direkonstruksi dengan rantai besi modular dicetak dalam 3D. Pakaian yang rumit secara teknis ini dibuat di studio saya yang berada di Paris,” ungkap pria lulusan Ecole Duperré Paris dan pernah bekerja di Haider Ackermann ini dengan nada antusias.

    Peleburan dua visi kreatif, lokal dan mancanegara ini menghadirkan nuansa baru dalam dunia mode di Indonesia dan menjadi langkah strategis untuk menambah bobot internasional dalam pergelaran lokal. Memberikan nyala api yang terus membakar semangat, agar kehidupan para pelaku ekosistem budaya dan industri kreatif Indonesia mode tetap eksis dan maju, meskipun dihadang situasi dunia yang tidak menentu. (Elly S | Foto: Dok. JF3 Fashion Festival)

  • Rizkya Batik Semarakkan JF3, Persembahkan MIMO Koleksi Terbaru untuk Perempuan Aktif, Terutama Ibu Menyusui

    Rizkya Batik Semarakkan JF3, Persembahkan MIMO Koleksi Terbaru untuk Perempuan Aktif, Terutama Ibu Menyusui

    Parade show JF3 Fashion Festival pada hari ketiga menghadirkan peserta dan Alumni Program PINTU Incubator berkolaborasi dengan student Ecole Duperré. Setiap desainer akan membawakan koleksinya masing-masing di La Piazza Fashion Tent, Summarecon Mall Kelapa Gading. Salah satunya, Rizkya Batik dengan bangga mempersembahkan MIMO, koleksi terbaru yang dirancang khusus untuk perempuan aktif, terutama para ibu menyusui. MIMO sendiri bermakna panggilan seorang ibu dari anak tercinta.

    “Terinspirasi dari kekuatan dan kelembutan perempuan, MIMO menggabungkan keindahan batik tradisional dengan potongan modern yang fungsional dan elegan. MIMO adalah refleksi dari keinginan perempuan untuk tetap tampil stylish tanpa mengesampingkan peran penting mereka,” ungkap Designer and Marketing Communications Rizkya Batik Widya Chandra.

    Koleksi ini menggunakan bahan batik tulis hasil pengrajin batik Solo yang berkualitas tinggi dengan sentuhan warna indigo alam dan hijau kuning yang menenangkan, serta fitur busui friendly seperti bukaan tersembunyi. Rizkya Batik mengundang semua perempuan untuk merayakan babak baru dalam hidup mereka, dengan mengenakan busana yang mengakar pada budaya, namun melangkah ke masa depan.

    Widya melanjutkan, “Ada enam koleksi yang ditampilkan malam ini. Memakai motif batik komtemporer pengembangan dari motif dasar buketan. Batik yang dipakai dikoleksi MIMO adalah batik tulis, kolaborasi Rizkya dengan  pengrajin Solo, Jawa Tengah.” Batik tulis ini menggunakan pewarnaan alami dari tumbuhan-tumbuhan seperti warna biru dari indigo, coklat dari tanah, dan kuning dari tumbuhan buah jolawe dengan bahan katun.

    “Rizkya Batik berdiri sejak tahun 2010. Berawal dari minimnya brand batik dengan kualitas bagus dan model fashion yang terkini di Solo. Namun, kebutuhan masyarakat akan baju batik yang memiliki kualitas bagus dan tetap fashionable sangat tinggi. Hal inilah yang menjadi dasar untuk mendirikan Rizkya Batik dengan berbekal kemampuan sang founder di bidang produksi fashion serta pengetahuan batik yang diturunkan dari keluarga,” ujar Direktur Operasional Rizkya Batik Novana Sandra.

    Rizkya Batik hadir tidak hanya sebagai usaha yang menyediakan pakaian, tetapi juga turut serta melestarikan budaya batik Nusantara sebagai ciri khas bangsa. Untuk mengajak masyarakat memakai batik bukan hanya untuk paksaan, tetapi untuk kebutuhan fashion yang diminati setiap saat.

    Novana melanjutkan, “Saat ini 90% tenaga kerja batik Rizkya adalah kaum Hawa. Kami bekerjasama dengan ibu rumah tangga dan penyandang disabilitas di sekitar wilayah Solo yang membantu kami menghasilkan produk berkualitas. Rizkya Batik memastikan para penyandang disabilitas ini bekerja dengan produktivitas yang sama dengan pekerja normal. Kami juga telah melakukan upaya untuk ikut menjaga kelestariannya. Misalnya, mengurangi penggunaan plastik, menggunakan bahan pewarna batik yang ramah lingkungan.”

    Dalam menjalankan bisnisnya, Rizkya Batik juga bekerjasama dengan pengrajin batik dari daerah di Indonesia. “Kami percaya, bahwa bekerja sama akan membuat merek berjalan lebih cepat dan bertahan lebih lama. Bahan yang kami gunakanan dalam produksi adalah hasil kerjasama antara Rizkya Batik dengan pergrajin Indonesia mulai dari bahan katun, viscose, ATBM  atau Alat Tenun Bukan Mesin dan masih banyak lainnya lagi,” tutup Novana. (Red. Elmediora | Foto: Dok. Rizkya Batik)

  • Panorama Haute Couture Asia Tenggara dari AFDS, Imajinasi Mendalam dan Tak Takut Definisikan Ulang Tradisi

    Panorama Haute Couture Asia Tenggara dari AFDS, Imajinasi Mendalam dan Tak Takut Definisikan Ulang Tradisi

    ASEAN Fashion Designers Showcase (AFDS) yang terdiri dari para desainer negara-negara Asia Tenggara menampilkan karya busananya di festival mode dan gaya hidup, JF3 2025 di Summarecon Mall Kelapa Gading pada 26 Juli 2025.

    Masuki dunia di mana warisan kuno, kebanggaan nasional, dan fantasi puitis bersatu. Storyboard mode tinggi ini menjelajahi keanggunan tenang sutra Laos, simbolisme ikonik gajah Thailand, dan pesona magis dongeng hutan Vietnam. Setiap cerita terungkap seperti bab dari epik modern—unik, namun terjalin harmonis dalam perayaan bersama akan identitas, keanggunan, dan pembaruan.

     

    The Whisper of Silk (Laos) – Bandid Lasavong

    Cerita ini dimulai dengan keheningan—keheningan yang anggun dan sarat dengan warisan. Model-model melintas di atas catwalk dengan siluet yang terinspirasi dari keanggunan ‘old money’, dijahit dari sutra Laos yang dianyam tangan.

    Palet warnanya sederhana: ivory, champagne, antique gold, and soft jade. Detail-detailnya merupakan contoh sempurna dari keahlian tangan—motif klasik yang dihidupkan kembali dengan bordir benang emas, aksen mutiara yang halus, dan potongan yang terstruktur, mencerminkan keanggunan vintage. Ini adalah “kemewahan yang tenang” dalam bentuk terbaiknya — percaya diri, tenang, dan sarat budaya. Setiap tampilan berbisik tentang warisan kaya seni Laos, diinterpretasikan ulang untuk bangsawan abadi masa kini.

    The Pulse of Pride (Thailand) – Pitnapat Yotinratanachai

    Kecepatan meningkat. Dari ketenangan muncul kekuatan. Identitas Thailand meledak melalui motif gajah yang berani dan tak terbantahkan, diinterpretasikan bukan sekadar cetakan, melainkan sebagai bentuk patung dan narasi visual. Embossing bergaya gajah pada kulit, bentuk gading abstrak pada aksesori logam, dan jubah yang mengalir meniru gerakan makhluk megah ini mendominasi koleksi. Warna berubah menjadi royal sapphire, onyx, and sunlit bronze yang diterangi matahari.

    Potongan busana berani, dengan sudut tajam dan lipatan tak terduga yang mengingatkan pada arsitektur Thailand kuno dan teknik avant-garde modern. Hasilnya kuat dan tak terlupakan—penghormatan yang berani terhadap semangat Thailand, diabadikan dalam bahasa desain yang tak akan dilupakan dunia.

    The Dream Enchanted (Vietnam) – Nicky Vu

    Senja mulai turun dan dunia berubah menjadi magis. Terinspirasi ‘A Midsummer Night’s Dream’, bab Vietnam adalah mimpi yang ethereal, fantasi Shakespearean bertemu dengan keanggunan feminin Vietnam. Brokat, tulle, dan hiasan halus mekar seperti bunga liar. Siluet mengalir seperti cahaya bulan dan beberapa melekat pada bentuk, yang lain melayang dalam awan kain transparan yang membentang. Tweed dan denim menambahkan tekstur dan kejutan, menanamkan keajaiban dalam kenyataan. Warna pistachio, kuning mentega, dan putih porselen berkilau di samping nuansa gelap biru senja dan obsidian. Ini adalah perpaduan antara lembut dan kuat, romantis dan bijaksana—sebuah dongeng dengan sentuhan kejam.

    Finale: A Unified Tapestry

    Adegan akhir menyatukan ketiga cerita menjadi satu klimaks visual yang megah. Siluet megah Laos, drama simbolis Thailand, dan keajaiban magis Vietnam berjalan berdampingan, bukan sebagai kontras, tetapi sebagai pelengkap. Bersama-sama, mereka membentuk panorama haute couture Asia Tenggara: mendalam, tak terbatas imajinasinya, dan tak takut untuk mendefinisikan ulang apa yang dimaksud dengan tradisi di era modern. (Red. Elmediora | Foto: Dok. JF3)

  • Bertema ‘Re:nature’ 3 Desainer APPMI Bertalenta dengan Suguhan Aneka Busana untuk Berbagai Kesempatan

    Bertema ‘Re:nature’ 3 Desainer APPMI Bertalenta dengan Suguhan Aneka Busana untuk Berbagai Kesempatan

    Ajang JF3 Fashion Festival 2025 yang sudah memasuki dekade ketiga setelah dibuka di hari berikutnya menghadirkan APPMI dengan tiga perancang busana, yaitu Harry Hasibuan, Khayae, dan Yuni Pohan.

    Desainer Harry Hasibuan melalui labelnya Haze Be Wear mempersembahkan koleksi terbarunya bertajuk ‘Falling for the Bloom’ dalam ajang JF3 Fashion Festival 2025. Koleksi ini merupakan perayaan keindahan bunga-bunga yang bermekaran, diterjemahkan ke dalam desain busana yang memadukan keanggunan klasik dengan sentuhan segar nan feminin.

     

    Menampilkan 20 koleksi busana yang didominasi oleh potongan loose dan siluet mengalir, menjadikannya pilihan sempurna untuk berbagai momen, khususnya acara pesta atau perayaan. Koleksi ini juga dirancang inklusif, dapat dikenakan berbagai rentang usia—baik muda maupun dewasa—tanpa mengesampingkan sisi gaya dan kenyamanan. Koleksi ini terdiri dari dress, setelan blouse & rok, serta blouse & celana yang menonjolkan kesan elegan dan effortless. Material yang digunakan pun memperkuat nuansa feminin dan glamor, seperti lace, tulle, organza, beludru, hingga aksen budaya melalui penggunaan kain songket dan tenun tradisional Indonesia.

    Sementara, Desainer Khayae menampilkan koleksi busana bertema ‘Tropical Sanctuary’ yang terinspirasi hari hutan hujan tropis dengan nuansa palet warna moca, muse, hitam, putih, tanah liat dan bebatuan. Dengan material organik, tenun bulu dan motif dedaunan dan akar-akaran eksotis mengeksplorasi hubungan antara manusia, lingkungan, dan identitas melalui interpretasi artistik terhadap berbagai habitat dari rimba tropis. Setiap segmen menampilkan bagaimana pakaian bisa menjadi ‘rumah’ bagi ekspresi diri, budaya, dan alam yang membentuk kita.

    Segmen yang diangkat menyoroti hutan sebagai habitat alami dan spiritual tempat budaya leluhur tumbuh dan berakar. Hutan bukan hanya ruang ekologis, tetapi juga ruang sakral, tempat upacara adat, sumber daya alam, dan mitologi. Koleksi kali ini menggambarkan simbiosis antara manusia, alam, dan budaya melalui siluet yang menyerupai batang pohon, akar, lumut, dan dedaunan.

    Desainer ketiga, Yuni Pohan menghadirkan wastra Batak bernuansa peach yang terdiri dari celana palazzo, bustier struktural, dan outer panjang dengan lengan balon. Detail bordir etnik dan bros emas pada bustier memberikan kesan glamor, sekaligus menonjolkan warisan budaya. Terinspirasi dari budaya batak yang dikenal energik, konsisten, dan kuat dengan tema Markobas—siap berkegiatan—Yuni menampilkan 20 karyanya dengan membawa wastra beragam, seperti tumtuman, sibolangan, maringin, dan lainnya, dikemas dalam berbagai busana yang lebih modern bergaya chic elegan.

    Nuansa warnanya bermain di rona nude dan navy yang tetap disukai dari zaman ke zaman, memanfaatkan kain ulos, kombinasi beludru, linen, tapeta, organza, dan shifon. (Red. Elmediora | Foto: Dok. JF3)

  • JF3 Fashion Festival 2025 Dorong Para Desainer Berevolusi & Menglobal Tanpa Kehilangan Akar Warisan Budaya

    JF3 Fashion Festival 2025 Dorong Para Desainer Berevolusi & Menglobal Tanpa Kehilangan Akar Warisan Budaya

    Melalui tema “Recrafted: A New Vision”, JF3 memperbarui komitmennya terhadap kreativitas, keahlian, dan keberlanjutan, mendorong para desainer untuk menembus batas, berinovasi dan bertransformasi tanpa kehilangan akar.  Memasuki dekade ketiga, JF3 Fashion Festival 2025 melangkah ke era baru dengan semangat yang lebih kuat. Tema ini menjadi sebuah gerakan yang mengajak seluruh pelaku industri untuk mendefinisikan ulang warisan budaya sebagai kekuatan di masa depan.

    Bagi Thresia Mareta, penasihat JF3 sekaligus pendiri LAKON Indonesia, tema ini menyuarakan pesan penting bahwa fashion tidak hanya tentang pakaian.  “Kami percaya bahwa fashion bukan sekadar benda, tapi mengandung arti yang sangat luas, mencakup bahasa, warisan, seni, norma, etika, dan ilmu. Esensinya terletak pada keterampilan tangan. Namun agar tradisi bisa terpelihara, ia harus terus berkembang,” ujar Thresia.

    “Sering kali kita terjebak dalam kenyamanan, dan hal ini membuat kita berjalan di tempat. JF3 hadir sebagai ruang kolaboratif yang mengedepankan inovasi dan perubahan, sebuah platform dan semua pihak bisa bertumbuh bersama serta saling memperkuat. Recrafted: A New Vision bukan hanya sekadar tema. Ini adalah sebuah gerakan dan waktunya untuk kita bergerak lebih jauh dengan derap langkah yang baru,” lanjut Thresia.

    Global Partnership Makin Meluas & Berkembang

    JF3 2025 akan kembali digelar di dua lokasi, yakni pada 24–27 Juli di Summarecon Mall Kelapa Gading, dan 30 Juli–2 Agustus di Summarecon Mall Serpong. Festival ini akan menampilkan sebanyak 45 desainer dan brand, menghadirkan koleksi dari para kreator lokal terkemuka seperti Howard Laurent, Adrie Basuki, Sofie, Hartono Gan, Ernesto Abram, hingga LAKON Indonesia. Berbagai brand yang juga turut berpartisipasi diantaranya Metamorph by Zack, Be Spoke, Brilianto, Nes By HDK, Asha, Abbey by Ariy Arka, dan Future Loundry.

    Salah satu highlight dari JF3 2025 adalah kerjasama internasional yang semakin luas dan berkembang. Hal ini menjadi sebuah diplomasi budaya dan upaya untuk menembus ekosistem pasar mode global. Selain menampilkan karya para desainer internasional, JF3 juga menghadirkan kolaborasi kreatif antara desainer luar dengan brand mode Indonesia. Salah satunya, Victor Clavelly, desainer muda Prancis yang pernah berkolaborasi dengan berbagai figur global terkemuka seperti Rick Owens, Katy Perry, FKA Twigs hingga Beyoncé. Dalam JF3 Fashion Festival, Victor Clavelly bersama Héloïse Bouchot akan berkolaborasi dengan LAKON Indonesia.

    Selain itu, presentasi karya mode Prancis lainnya akan diwakili dengan kehadiran desainer-desainer muda berbakat, seperti Solène Lescouët yang karyanya pernah menjadi bagian dari perayaan Olimpiade Paris. Hingga Ornella Jude Ferrari, dan Louise Marcaud yang pernah menjajaki karir di berbagai brand mode internasional. JF3 tahun ini juga menjalin kerjasama yang lebih dalam dengan institusi luar negeri seperti École Duperré Paris, hingga WSN sebagai penyelenggara Paris Trade Show melalui kerjasama dengan DRP Paris.

    Untuk kawasan ASEAN, JF3 kembali bekerjasama dengan AFDS (ASEAN Fashion Designers Showcase), yang menghadirkan Nicky Vu dari Vietnam, Bandid Lasavong dari Laos, serta Pitnapat Yotinratanachai dari Thailand. Tahun ini, untuk pertama kalinya JF3 memperluas ruang kolaborasi internasional dengan menghadirkan desainer Korea Selatan yang mewakili inovasi industri mode Asia yang terus berkembang. Chung Hoon Choi, Lee Joon Bok, dan Baek Ju Hee, masing-masing akan menampilkan karyanya dari brand mode yang tidak hanya dikenal di Korea Selatan, namun juga telah menembus fashion global.

    Regenerasi Pelaku Industri Mode Turut Diupayakan

    Untuk mendukung desainer dan brand dari sisi retail, Niwasana by Fashion Village kembali hadir di Summarecon Mall Kelapa Gading dari 24 Juli hingga 3 Agustus 2025 dengan menghadirkan lebih dari 50 brand terkurasi, meliputi kategori ethnic apparel, modern apparel, dan perhiasan.

    Sementara di Summarecon Mall Serpong, JF3 kembali menggandeng DRP Paris untuk menyelenggarakan Code Street by DRP Jakarta, festival streetwear dan budaya urban asal Prancis. Kini memasuki edisi keduanya, dengan waktu pelaksanaan yang lebih panjang, dari 30 Juli hingga 10 Agustus 2025. Regenerasi pelaku industri mode juga turut diupayakan, JF3 tahun ini memperkenalkan Future Fashion Award. Program ini memberikan dukungan finansial serta mentoring bisnis kepada dua brand muda yang terpilih melalui proses seleksi berbasis proposal bisnis yang solid.

    Brand terpilih akan menjalani proses pendampingan intensif bersama LAKON Indonesia untuk memperkuat eksekusi, kapasitas produksi, dan membangun sistem pendukung yang kuat. Future Fashion Award menjadi wujud konkret dari komitmen JF3 untuk membangun ekosistem fashion yang sehat dan berkelanjutan dari hulu hingga hilir. Sementara PINTU Incubator, program inkubasi yang dinisiasi JF3, LAKON Indonesia dan Kedutaan Besar Prancis melalui IFI, memasuki tahun ke-4 penyelenggaraannya menunjukan hasil yang semakin nyata. (Red. Elmediora.com | Foto: Dok. JF3)

  • Perkuat Kolaborasi Indonesia-Prancis, PINTU Incubator Kenalkan Residency Program Pererat Hubungan Kreatif Dua Negara

    Perkuat Kolaborasi Indonesia-Prancis, PINTU Incubator Kenalkan Residency Program Pererat Hubungan Kreatif Dua Negara

    Semakin berperan lebih dalam pada program bilateral yang strategis, PINTU Incubator kembali mendukung kreator muda dua negara yaitu Indonesia dan Prancis. PINTU mengulas capaian selama tiga tahun terakhir, sekaligus memperkenalkan program terbarunya: Residency Program. Ini dirancang sebagai langkah baru mempererat hubungan kreatif dua negara melalui pendekatan langsung dan kolaboratif.

    Sejak diluncurkan pada 2022, PINTU Incubator telah menjadi wadah pengembangan bagi desainer muda melalui proses kurasi, mentoring professional, pertukaran budaya, pengalaman profesional, dan eksposur ke pasar global, program ini menghubungkan para desainer muda dengan para ahli, institusi, dan ekosistem kreatif dari kedua negara. Dalam tiga tahun, PINTU telah menjaring lebih dari 10.000 brand yang tertarik, memilih 51 peserta terinkubasi, dan melibatkan 86 mentor ahli,  termasuk 33 dari Prancis.

    Apresiasi Terus Mengalir

    Sebagai bagian dari penguatan kerja sama internasional, PINTU menandatangani MoU kerjasama dengan École Duperré Paris, salah satu institusi seni dan mode terkemuka di Prancis. Penandatanganan yang dilakukan oleh Thresia Mareta, co-initiator PINTU Incubator dan Alain Soreil, Direktur École Supérieure des Arts Appliqués Duperré. Berlangsung pada 28 Mei 2025 di Rumah Tradisional Kudus, Bentara Budaya, dan disaksikan langsung oleh Menteri Kebudayaan Prancis Rachida Dati serta Chairman JF3 Soegianto Nagaria.

    Thresia Mareta, Co-initiator PINTU Incubator sekaligus Founder LAKON Indonesia, menyampaikan rasa syukur atas apresiasi yang terus mengalir dari berbagai pihak, termasuk kunjungan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati dan dukungan langsung dari pemerintah Prancis. Presiden Emmanuel Macron secara khusus menyampaikan dukungannya terhadap program PINTU saat berpidato 29 Mei lalu di Candi Borobudur, menyebutnya sebagai bentuk nyata kerja sama budaya yang perlu terus dikembangkan. “Saat Presiden Macron menyebut langsung program PINTU dalam pidatonya di Candi Borobudur, saya menyadari bahwa itu bukan hanya pengakuan atas program kami, tapi juga simbol kuat bahwa budaya, pendidikan, dan kreativitas bisa menyatukan dua bangsa.” ujar Thresia Mareta, Co-initiator PINTU Incubator dan Founder LAKON Indonesia.

    Tahun 2025 menjadi tonggak baru bagi PINTU Incubator dengan diluncurkannya Residency Program, sebuah program residensi untuk desainer muda Prancis yang dirancang untuk menciptakan pertemuan langsung antara kreativitas Prancis dan kekayaan budaya Indonesia. Selama tiga bulan. peserta akan tinggal dan berkarya di 2 wilayah Indonesia, mempelajari teknik batik di Jawa dan mengeksplorasi tenun tradisional di wilayah timur Indonesia.

    Tahun ini, dua desainer muda Prancis yang terpilih adalah Kozue Sullerot dan Priscille Berthaud. Keduanya magang di LAKON Indonesia, berkolaborasi menciptakan koleksi lintas budaya yang nantinya akan dipresentasikan di LAKON Store dan ajang bergengsi Premiere Classe Paris.

    “Residency Program ini adalah langkah nyata kami untuk memperdalam kolaborasi lintas budaya. Melalui program ini mereka langsung bekerja dengan para artisan dan melakukan proses kreatif bersama. Mereka bukan hanya mendapat pelatihan teknis, tapi juga mendapatkan pengalaman profesional dan personal,” ujar Thresia Mareta.

    Dorong Lahirnya Brand-brand Potensial

    Chairman JF3 dan Co-initiator PINTU Incubator, Soegianto Nagaria, turut menyoroti perjalanan PINTU sebagai bagian dari komitmen jangka panjang JF3 dalam membina industri mode Indonesia. “Selama lebih dari dua dekade, JF3 terus mendorong pertumbuhan talenta muda, mengembangkan bisnis fashion, mengangkat pengrajin dan karya tangan tradisional, dan membuka peluang kolaborasi lintas industri dan lintas negara. Konsistensi ini mencerminkan komitmen kami untuk membangun ekosistem yang hidup dan berkelanjutan. Kami tidak hanya merayakan kreativitas, kami berinvestasi di dalamnya dan mengarahkannya ke pasar nyata serta eksposur global,” ujarnya.

    Menurut Soegianto, setelah tiga tahun berjalan, PINTU Incubator tidak hanya memenuhi ekspektasi, tetapi telah menjadi platform penting dalam mendorong lahirnya brand-brand potensial dengan perspektif internasional. Dalam kesempatan yang sama, PINTU Incubator juga mengumumkan enam brand yang akan tampil di JF3 Fashion Festival 2025, yaitu: CLV, Dya Sejiwa, Lil Public, Nona Rona, Rizkya Batik, dan Denim It Up.

    Sebagai hasil dari proses inkubasi selama enam bulan, ketiga brand ini akan mempresentasikan koleksi dalam sebuah show kolaboratif bertajuk “Echoes of the Future by PINTU Incubator featuring École Duperré”, yang akan diselenggarakan pada Minggu, 27 Juli 2025 pukul 16.30 WIB di Summarecon Mall Kelapa Gading, sebagai bagian dari rangkaian JF3 Fashion Festival 2025. Kolaborasi ini juga akan melibatkan tiga siswa dari École Duperré Paris: Pierre Pinget, Bjorn Backes, dan Mathilde Reneaux.

    Melalui koleksi bersama yang akan ditampilkan, para desainer dari Indonesia dan Prancis akan merayakan perpaduan antara nilai-nilai tradisional dan semangat inovasi. Dengan serangkaian program dan pencapaian yang terus berkembang, PINTU Incubator berdiri sebagai model inkubasi mode yang tidak hanya relevan, tetapi juga visioner. PINTU bukan sekadar program pelatihan, melainkan PINTU antar bangsa, antar generasi, dan antar pemikiran. Di sinilah masa depan mode Indonesia dibentuk: kolaboratif, berakar budaya, dan siap menembus dunia. (Red. Elmediora | Foto: Dok. PINTU Incubator)

  • DIBBA Persembahkan Koleksi Fall/Winter 2025 Bertema Odyssey dalam Ajang Thailand Fashion Week 2025

    DIBBA Persembahkan Koleksi Fall/Winter 2025 Bertema Odyssey dalam Ajang Thailand Fashion Week 2025

    Rumah mode asal Indonesia yang dikenal karena memadukan warisan Timur dengan sentuhan Barat, DIBBA membuat pernyataan berani di panggung internasional melalui debut koleksi Fall/Winter 2025 mereka, Odyssey, dalam ajang Thailand Fashion Week 2025 di Bangkok.

    Koleksi ini memikat penonton dengan konsep visioner yang terinspirasi estetika sci-fi dan misteri perjalanan ruang angkasa antar galaksi. Pertunjukan ini membawa penonton melampaui runway, menawarkan pengalaman imersif yang memadukan fantasi gelap dengan busana siap pakai beraksen punk.

    Mendorong batas inovasi material, Odyssey memperkenalkan tekstil mutakhir, seperti printed crystal mesh dan kain aktif termal—sebuah eksplorasi terhadap masa depan tekstur dalam fesyen. Material dinamis ini tidak hanya menantang desain konvensional, tetapi juga menegaskan pendekatan avant-garde DIBBA terhadap fungsionalitas dan tekstur.

    Setiap karya dalam koleksi ini berperan sebagai bab dalam narasi kosmik;  mengubah  model  menjadi  pengelana  dalam  lanskap  mimpi futuristik. Odyssey dari DIBBA membayangkan kembali fesyen sebagai wahana penemuan, tempat gaya bertemu hal-hal yang belum dikenal melalui imajinasi.

    “Menampilkan karya di Bangkok dalam ajang Thailand Fashion Week merupakan momen penting bagi kami. Dengan Odyssey, kami ingin menghubungkan budaya dan mendorong batas-batas kreativitas sembari membawa penonton dalam perjalanan yang tak terduga dan mendebarkan layaknya penjelajahan luar angkasa,” ujar Faisal Shah, Direktur Kreatif DIBBA.

    Presentasi ini menegaskan pengaruh DIBBA yang terus berkembang di ranah mode internasional, menghadirkan narasi lintas budaya yang khas serta semangat eksperimental kepada audiens baru di seluruh dunia. (Red. Elmediora | Foto: Dok. DIBBA)

  • Studiofolio 2025 LaSalle College Jakarta, Jembatani Talenta Baru dengan Mitra Industri, Institusi Budaya, dan Jejaring Global

    Studiofolio 2025 LaSalle College Jakarta, Jembatani Talenta Baru dengan Mitra Industri, Institusi Budaya, dan Jejaring Global

    Untuk pertama kalinya LaSalle College Jakarta meluncurkan STUDIOFOLIO 2025, sebuah Annual Student Exhibition berskala internasional. Meredefinisi bagaimana pendidikan vokasi kreatif berperan aktif di tengah industri global. Bertempat di Spac8 Ashta District 8 Jakarta, pada 3 hingga 6 Juli 2025, STUDIOFOLIO menghadirkan sinergi. Antara proses pembelajaran mahasiswa dengan dinamika nyata dunia kreatif profesional dalam format interaktif, publik, dan inspiratif.

    STUDIOFOLIO menampilkan lebih dari 300 karya mahasiswa dari delapan program studi unggulan yaitu Fashion Design, Fashion Business, Interior Design, Graphic Design, Digital Media Design, Photography, Artistic Make Up, dan Game Art Design. Sebagai bagian dari program utama, lebih dari 120 karya fashion couture juga akan ditampilkan dalam Fashion Show istimewa bertajuk Threads of Identity pada 4 Juli 2025.

    STUDIOFOLIO bukan sekadar platform pameran, tetapi sebuah ekosistem terbuka tempat kolaborasi, diskusi, dan pertukaran ide terjadi secara aktif. Dengan tema The Networked Studio: The World is Your Classroom, acara ini menghadirkan rangkaian sesi Open Class, Conference, Talkshow, Fashion Show, serta Industry Reception yang dirancang untuk menjembatani bakat bakat baru dengan mitra industri, institusi budaya, dan jejaring global.

    Dalam sambutannya, Campus Director LaSalle College Jakarta Hairun Ali Ghani menyampaikan, “STUDIOFOLIO 2025 adalah bukti nyata dari komitmen kami terhadap hasil yang konkret, suatu portfolio yang kuat, kolaborasi nyata dengan industri, dan pengembangan personal branding mahasiswa secara berkelanjutan. Semua ini berjalan secara seamless, dari ruang kelas hingga industri, bahkan ke panggung dunia. Inilah keunggulan LaSalle College Jakarta.”

    Dengan menghadirkan lebih dari dua puluh pembicara lintas disiplin dan tamu industri dari berbagai sektor, STUDIOFOLIO 2025 bukan hanya sebuah pameran. Tetapi, juga langkah strategis dalam memperkuat posisi LaSalle College Jakarta sebagai institusi pendidikan kreatif vokasi butik terkemuka yang terhubung erat dengan dunia profesional. (Red. Elmediora | Foto: Dok. LaSalle College Jakarta)