Author: elmediora

  • SukkhaCitta Rayakan 9 Tahun dengan Berikan Penghormatan untuk Ibu Pertiwi

    SukkhaCitta Rayakan 9 Tahun dengan Berikan Penghormatan untuk Ibu Pertiwi

    Merayakan ulang tahunnya yang ke-9, SukkhaCitta meluncurkan PERTIWI: A Modern Heritage Edit, sebuah koleksi yang mengimajinasikan kembali siluet ikonik Indonesia: kebaya, beskap, dan kain berpotongan skulptural, lapisan puitis, dan keanggunan kontemporer. Lebih dari sekadar busana, PERTIWI adalah penghormatan bagi Ibu Pertiwi—Bumi sebagai Ibu—dan bagi perempuan yang meneruskan warisanNya melalui tangan, suara, dan kehidupan mereka.

    Ibu Pertiwi: Ibu, Ingatan, Sumber Inti

    Di Indonesia, Bumi dipanggil dengan nama penuh kasih: Ibu Pertiwi—Ibu, Ingatan, Sumber Inti. Ia bukan sekadar gagasan, melainkan hadir nyata: terasa di tanah, tercium dalam wangi panen, hidup dalam setiap benang yang dipintal dengan tangan.

    Melalui tangan perempuan—petani, pewarna alami, dan penenun—proses regenerasi diteruskan. Mereka bukan hanya bagian dari perjalanan; merekalah denyut yang menjaganya tetap hidup. PERTIWI adalah persembahan bagi mereka: para Penjaga Ibu Pertiwi. “Bagi kami, mereka adalah nadi yang menghidupkan regenerasi. Pahlawan sejati yang menjaga kesinambungan. PERTIWI adalah cara kami menghormati mereka,” ujar Denica Riadini-Flesch, Founder & CEO SukkhaCitta.

    Koleksi: Heritage Modern yang Diimajinasikan Kembali

    Dengan arahan kreatif dari Anastasia Setiobudi, PERTIWI menghadirkan kembali warisan sebagai identitas hidup. Setiap siluet menjadi dialog hening antara tradisi dan transformasi, kelembutan dan kekuatan, seremoni dan keseharian.

    • PERTIWI Kebaya: reimajinasi struktural dengan tiga cara pemakaian, hadir dalam warna simbolik ThreeBark Red dan Nature White.
    • Kebaya Vest: busana ritual harian dengan bordir senada dan jahitan yang presisi.
    • Pagi Sore & Anyam Kain: kain multifungsi dengan drape yang mengalir anggun, dapat dikenakan dengan berbagai gaya.
    • Beskap & Light Beskap: penghormatan pada tradisi yang dirancang ulang dengan sentuhan modern, bahkan dikenakan di panggung dunia oleh Chris Martin dari Coldplay.

    Seluruh koleksi dibuat dari serat tanaman, ditenun dengan teknik tradisional, dan diwarnai secara alami dengan tanaman penyembuh. Filosofi warnanya mencerminkan perjalanan hidup: putih sebagai ok awal, merah untuk pertumbuhan, dan hitam sebagai simbol kekuatan yang mengakar. “PERTIWI adalah bisikan lembut tentang perubahan. Kelembutan menjadi kekuatan, keanggunan adalah kemudahan, dan keindahan adalah rasa memiliki. Inilah modern heritage—hidup, personal, dan penuh makna,” tambah Anastasia sang Creative Director SukkhaCitta. (Red. Elmediora | Foto: Dok. SukkhaCitta)

  • Parfum Pistachio Crush dan Tea Amor, Scarlett Hadirkan Wangi Gourmand Kelas Dunia

    Parfum Pistachio Crush dan Tea Amor, Scarlett Hadirkan Wangi Gourmand Kelas Dunia

    Scarlett, brand kecantikan lokal Indonesia, resmi memperluas portofolio wewangian dengan meluncurkan dua parfum terbaru, Pistachio Crush dan Tea Amor. Resmi diluncurkan secara online di bulan Agustus 2025, koleksi ini dikembangkan melalui public panelling test yang memastikan aroma terasa dekat dengan konsumen. Sekaligus, menjadi favorit para member girl group K-Pop Hearts2Hearts, Brand Ambassador Scarlett.

    “Kami memilih tema ‘Magical Sweet Love’ untuk koleksi baru ini untuk menjadi sensorial-reminder tentang momen-momen manis yang membekas di hati dan ingatan. Mulai dari tahap Sweet Encounter, saat pertemuan pertama yang penuh rasa deg-degan. Warm Flavour of Togetherness, yang menghadirkan kehangatan kebersamaan. Sweetness Creation, dengan memori indah tercipta, hingga Reminiscing of Love ketika kenangan itu kembali diingat,” ujar Felicya Angelista, Co-Founder Scarlett.

    Untuk menangkap nuansa manis dari setiap tahap perjalanan cinta tersebut, dipilih tipe wangi gourmand yang fruity dan floral, dipadukan dengan aroma yang sedang tren seperti pistachio, serta wangi teh yang tetap segar dan cocok untuk iklim tropis.

    Pistachio Crush menghadirkan aroma gourmand yang hangat dan manis, dibuka dengan sentuhan pedas cardamom yang berpadu dengan pistachio dan elemi. Lalu, berkembang creamy lewat coconut, lily of the valley, dan peach, sebelum ditutup oleh sandalwood dan vanilla yang menenangkan.

    Kreasi perfumer asal Barcelona David Mallo ini diperkenalkan di Jakarta oleh co-creatornya, Juncal Tomás, perfumer berpengalaman yang berbasis di Singapore dan telah meraih berbagai penghargaan regional. Dalam peluncuran parfum ini, Juncal Tomás mengatakan, “Pistachio Crush, diracik untuk menangkap perpaduan wangi yang comforting namun tetap playful, gourmand namun tidak berat. Kombinasi creamy dari pistachio dan coconut saya imbangi dengan sentuhan manis peach dan lily of the valley, sehingga wanginya tetap bisa dipakai sepanjang hari.”

    Sementara itu, Tea Amor merupakan kreasi Ivan Wong, perfumer dengan delapan tahun pengalaman di world-class perfume house. Ivan pernah bekerja di berbagai perfumery dunia, mulai dari Dubai, Singapore, Barcelona, hingga China, dan meraih banyak penghargaan regional.

    Tea Amor menjadi karya yang ia persembahkan khusus untuk Indonesia. Memadukan aroma teh yang segar dengan kelembutan floral, keharumannya dibuka dengan manisnya karamel yang berpadu elegan dengan jasmine dan rose. Kemudian, bergeser menjadi lembut berkat notes tea, lily of the valley, dan tuberose. Pada akhirnya, kombinasi honey, sandalwood, dan musk memberikan lapisan hangat yang memikat sekaligus sophisticated(Red. Elmediora | Foto: Dok. Scarlett)

  • Retrospeksi Napak Tilas Seni, Jejak Ingatan Arsitek dan Kolektor Seni Hendra Hadiprana

    Retrospeksi Napak Tilas Seni, Jejak Ingatan Arsitek dan Kolektor Seni Hendra Hadiprana

    Untuk mengenang kelahiran arsitek dan kolektor seni serta founder galeri seni pertama di Indonesia, Galeri Hadiprana, keluarga Hendra Hadiprana menggelar Pameran Retrospeksi Napak Tilas Seni. Pameran Retrospeksi yang dihelat pada 23 Agustus sampai 15 September 2025 akan memamerkan jejak-jejak koleksi arsitek kampiun tersebut dengan karya-karya seniman maestro seni modern, seperti Gregorius Sidharta Soegijo, Sadali, Srihadi, Ad Pirous, Jeihan, Yusuf Affendi, dan lainnya.

    Putri sulung Hendra, Puri Hadiprana, seorang  profesional di bidang seni, arsitektur, dan desain, sekaligus Commissioner dari Hadiprana Design dan pendiri Hadiprana Art Centre menyatakan: “Pameran sejatinya, selain ingin mengenang kelahiran ayah pada bulan Agustus juga mensakralkan perayaan HUT Republik Indonesia ke-80, sekaligus menengok ulang ingatan sejarah tentang kecintaannya pada seni modern Indonesia”.

    “Napak Tilas adalah saat semua orang tak meninggalkan sejarah, meski zaman terus berubah,  koleksi-koleksi ini meneguhkan bahwa seni itu jujur dan dicintai dengan hati di tiap era dan  menorehkan kecintaan yang tak pernah mati, seperti ayah saat awal terpikat pada seni modern” ujarnya tambahnya. Puri menerangkan bahwa ayahnya, yang biasa disebut sejawatnya sebagai Om Henk, saat pertama kembali ke Indonesia pada 1957. Usai menamatkan studi desain interior dan arsitektur di Akademik Minerva Afdeling Architectuur, Groningen, Negeri Belanda terpikat pada karya lukisan Penyaliban Yesus karya G.Sidharta di Hotel Des Indes.

    “Pertanyaan terpenting bagi ayah adalah bagaimana menawarkan arsitektur dan interior bukan hanya sebagai tempat, tetapi juga sebagai seni yang memiliki sentuhan individual,” ujar Puri. Ia teringat sentuhan personal itu, yang mengilhami sebagai arsitek, dengan lukisan pertama koleksi ayahnya, karya G Sidharta yang dikejar dan dibelinya dalam setahun.

    Pameran Retrospeksi menampilkan sejumlah perupa lebih muda yang menjadi mitra Hendra Hadiprana tatkala masih hidup, seperti Wayan Bawa Antara, Made gunawan, Putu Bonus dan Ketut Seno juga koleksi keluarga seniman senior di Pameran Napak Tilas ini. “Seperti yang dituturkan Om Henk, seniman-seniman Indonesia tak kalah dengan karya seniman Eropa, karena itu sejak balik dari Belanda komitmennya ingin menjadi bagian dari seni dan budaya Indonesia sepenuhnya,” ujar Johanda sebagai manager galeri Hadiprana.

    Johanda, yang telah mengabdi lebih dari 26 tahun dan menjadi mitra terdekat Hendra Hadiprana mengaku bahwa kolektor seni itu benar-benar merasakan kebahagiaan yang luar biasa bisa bersahabat dengan para seniman yang ia dukung. “Om Henk mengamati perkembangan tiap seniman, hasratnya pun kecakapan skill-nya, sebab karya-karyanya cerminan sejati dari kecerdasan, hati, dan jiwa para seniman Indonesia,” lanjutnya.

    Dalam ingatan dan saksi-saksi hidup, Hendra Hadiprana arsitek serta kolektor kenamaan ini satu saat menyampaikan, sebagai yang disebut hampir dalam tiap lini bisnisnya, dalam misi dan visi  perusahaan yang dibangunnya. “Saya sungguh bersemangat tidak hanya tentang bagaimana arsitektur dan desain memengaruhi kehidupan manusia, tetapi juga tentang apa yang saya lakukan dan saya yakini. Dalam mimpi saya, arsitektur adalah cara hidup, sebuah sikap untuk menghargai seni dan budaya. Arsitektur dan seni-budaya adalah bagian integral dan tak terpisahkan, ” tambah Hendra Hadiprana. (Red. Elmediora | Foto: Dok. Galeri Hadiprana)

  • Pagelaran Sabang Merauke Hikayat Nusantara Mengapresiasi Budaya dan  Menyatukan Bangsa

    Pagelaran Sabang Merauke Hikayat Nusantara Mengapresiasi Budaya dan Menyatukan Bangsa

    iForte dan BCA kembali menghadirkan Pagelaran Sabang Merauke – The Indonesian Broadway 2025, sebuah pertunjukan teatrikal kolosal bertema “Hikayat Nusantara”, yang sukses digelar di Indonesia Arena, Senayan, Jakarta. Malam Premiere Show pada 22 Agustus ini menjadi momen pertama bagi penonton untuk menyaksikan panggung dua kali lebih besar dibandingkan pertunjukan tahun lalu. Lengkap dengan tata lampu dramatis, visual spektakuler, dan tata panggung yang menghadirkan pengalaman teatrikal broadway kolosal yang belum pernah terlihat sebelumnya.

    Premiere Show ini menjadi bukti kolaborasi lintas generasi dan lintas bidang, menggabungkan musik, tarian, teater, dan kostum dalam satu pertunjukan yang memukau. Kisah-kisah rakyat Nusantara dihidupkan kembali, mulai dari Hikayat Yuyu Kangkang & Malin Kundang, Hikayat Si Tumang, Mahadewi, hingga Hikayat Calon Arang, divisualkan melalui 31 lagu, lebih dari 100 koreografi, dan lebih dari 800 kostum penari serta 40 tampilan khusus penyanyi, menghadirkan nuansa teatrikal dan edukatif yang lengkap.

    Cerita dibuka dengan kemunculan Bagong (Indra Bekti) dan Petruk (Risang Janur Wendo), dua Punakawan yang memandu jalannya cerita dengan humor dan interaksi. Mereka melapor pada Semar bahwa misi mengenalkan pahlawan telah selesai, namun Semar memberi amanat baru: ada bahaya laten yang mengancam seni tradisi dan budaya Nusantara. Mereka ditemani Zee (Zahara Christie), generasi muda penuh semangat, serta istri Semar, Kanastren (Sruti Respati), yang menambahkan dimensi emosional dan segar dalam alur cerita.

    Kemegahan panggung langsung terasa lewat lagu “Padang Wulan” dari Jawa Tengah yang dibawakan Nino Prabowo, memperkenalkan sosok mitologi Yuyu Kangkang sebagai pembuka Hikayat Nusantara.

    Dari Aceh, Yuyun Arfah, Gabriel Harvianto, dan Christine Tambunan menyanyikan “Bungong Jeumpa” dengan penuh penghayatan. Disusul dengan suasana syahdu dari tanah Batak melalui “Butet” dan “Rambadia” oleh Alsant Nababan bersama Yuyun Arfah dan Christine Tambunan. Nuansa riang pun hadir dari Jambi lewat “Injit-Injit Semut” oleh Yura Yunita bersama paduan suara anak The Resonanz Children’s Choir (TRCC) membawa keceriaan yang membangkitkan semangat penonton.

    Dari Lampung, lagu “Pang Lipang Dang” dibawakan dengan penuh keceriaan oleh The Resonanz Children’s Choir yang beranggotakan anak-anak berusia 8–13 tahun. Penampilan ini semakin istimewa karena turut menampilkan Tari Tuping, tarian tradisional dengan topeng khas Lampung yang untuk pertama kalinya dihadirkan di panggung Pagelaran Sabang Merauke, menambah warna baru dalam perjalanan budaya Nusantara.

    Sorak penonton semakin menggema saat dari Sumatera Selatan, Christine Tambunan dan Gabriel Harvianto membawakan “Gending Sriwijaya” dengan megah, diperkaya atraksi Barongsai kelas dunia dari Kong Ha Hong yang membuat panggung bergemuruh oleh atraksi energiknya.

    Dari tanah Sunda, legenda Si Tumang dihidupkan kembali dengan “Manuk Dadali” yang dibawakan Roland Rogers, menampilkan simbol kekuatan dan pengorbanan. Puncak dramatik di Yogyakarta hadir melalui kisah Mahadewi, dibawakan PADI Reborn dan Yura Yunita. Lagu “Mahadewi” diperkuat efek teatrikal yang spektakuler: Yura Yunita terbang menggunakan sling di atas naga raksasa, menjadi momen spektakuler yang membuat seluruh Indonesia Arena bergetar oleh decak kagum penonton.

    Dari timur Nusantara, Christine Tambunan dan Alsant Nababan menghadirkan keceriaan lewat lagu “Lulo” dari Sulawesi Tenggara, yang sukses mengajak penonton turun ke panggung untuk menari dan bernyanyi bersama. Energi berlanjut ke Maluku, ketika Mirabeth Sonia dan Swain Mahisa membawakan “Ayo Mama”, disusul kolaborasi hangat bersama Roland Rogers lewat “Hai Rame-Rame” yang membuat seluruh arena bergemuruh dalam sukacita.

    Bali menghadirkan “Tembang Calon Arang” oleh Pradnya Larasati, menghadirkan nuansa mistis dan teatrikal, sementara Papua menutup rangkaian dengan “Sajojo”, dibawakan Gabriel Harvianto, Roland Rogers, Yuyun Arfah, dan Christine Tambunan, ditutup atraksi marching band dan koreografi perang spektakuler.

    Seluruh panggung hidup berkat lebih dari 800 kostum penari dan 40 tampilan khusus penyanyi, karya Jember Fashion Carnaval, Pesona Gondanglegi, Priyo Oktaviano, Anggoro Kancil, serta 19 desainer ternama Indonesia. Aksesoris berhias emas asli dan ornamen autentik menegaskan kualitas panggung kelas dunia, sementara tata lampu dan visual yang belum pernah dilihat sebelumnya memperkuat setiap adegan, termasuk momen puncak naga Mahadewi. (Red. Elmediora | Foto: Dok. Soe Mid San)

  • Suguhan Kuliner Legendaris Nusantara di JF3 Food Festival 2025  Selama 45 Hari di La Piazza

    Suguhan Kuliner Legendaris Nusantara di JF3 Food Festival 2025 Selama 45 Hari di La Piazza

    Setelah ditunggu-tunggu, JF3 Food Festival kembali hadir memanjakan lidah para pecinta kuliner. Selama 45 hari berturut-turut, mulai 15 Agustus hingga 28 September 2025, La Piazza Summarecon Mall Kelapa Gading disulap menjadi pusat perayaan kuliner terbesar di Jakarta. Dua program andalan, Kampoeng Tempo Doeloe (KTD) dan Wonderful Culinary Expo (WCE), kembali digelar bersamaan, menghadirkan pengalaman kuliner yang kaya rasa sekaligus penuh cerita.

    Dengan mengusung tema “Citarasa Nusantara”, JF3 Food Festival 2025 menghadirkan 100 tenant kuliner legendaris dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk 11 tenant hasil kurasi dari The Gading Archive (TGA). Tema Citarasa Nusantara ini menjadi wujud komitmen untuk menyajikan hidangan autentik dari berbagai penjuru negeri, di mana setiap sajian bukan hanya memanjakan lidah, tetapi juga membawa kekayaan budaya yang melekat di baliknya. Tahun ini, lebih dari 942 menu khas dari 103 pedagang kuliner legendaris Indonesia dihadirkan untuk mengajak pengunjung berkeliling rasa tanpa harus meninggalkan Jakarta.

    Menjajaki Berbagai Kuliner Khas

    Kampoeng Tempo Doeloe akan menyajikan kuliner khas dari berbagai wilayah, mulai dari Jawa, Sumatera, Bali, hingga Timur Indonesia. Beberapa kuliner yang direkomendasi di KTD tahun ini antara lain: Bakmi dan Bajigur Kadin Mbah Hj. Karto Pak Rochadi Asli Jogja, Kueh Moaci Gemini Kentangan, Es Puter Conglik KH. Ahmad Dahlan Semarang, Ronde Jahe Alkateri, Pempek Beringin, dan lainnya. Tim KTD telah melakukan penelusuran dan kurasi mendalam untuk memastikan bahwa setiap menu yang dihadirkan dapat memuaskan para pecinta kuliner.

    Tenant kurasi TGA juga tak kalah menggoda, menawarkan pilihan. Seperti Warung Tahu, Warung Unank Juice, Nasi Uduk Lapangan Tenis, Pudding Christy, Rawon Pandawa by Rumah Makan Ma’rannu, Rumah Makan Ma’rannu, Es Puter dan Es Krim Brasil, Home Made Bakery, dan lainnya.

    Sementara itu, Wonderful Culinary Expo (WCE) yang berlangsung mulai 21 Agustus hingga 21 September 2025 menawarkan pengalaman kuliner global dengan sentuhan premium. WCE tahun ini menghadirkan beragam cokelat artisan, aneka jenis keju, dan dairy products berkualitas, disertai pilihan brand unggulan seperti Mazaraat Artisan Cheese, Saranakulina, Healthy Choice, Karusotju, Isola Wine, Indoguna Meatshop, Palapa Drinks, Asian Cigar Company, maupun Snacksos.jkt.

    Program Hiburan

    Tak hanya soal kuliner, JF3 Food Festival juga menghadirkan hiburan setiap hari di area KTD.  Mulai dari live band performance, pertunjukan tradisional, hingga kolaborasi dengan sekolah-sekolah. Panggung utama setiap Minggu malam pun semakin semarak dengan kehadiran artis papan atas: Vierratale dan penampilan spesial Sasando pada 17 Agustus, Kla Project pada 31 Agustus, Raissa Anggiani pada 14 September, serta Padi Reborn pada 21 September 2025.

    Program Belanja

    Keseruan semakin lengkap lewat program belanja Boboho (Bola Bola Hoki) di setiap akhir pekan. Dengan pembelanjaan minimal Rp100.000 di tenant KTD, pengunjung berkesempatan memenangkan voucher hingga Rp50.000 atau hadiah minuman dari sponsor. Selain itu, setiap pembelanjaan minimal Rp100.000 di KTD juga langsung mendapatkan voucher belanja senilai Rp100.000 di Rambla Department Store. (Red. Elmediora | Foto: Dok. Istimewa)

     

  • MaxCara dari MOP Beauty Hasilkan Volume Maksimal & Extra Length dalam Sekali Pulasan

    MaxCara dari MOP Beauty Hasilkan Volume Maksimal & Extra Length dalam Sekali Pulasan

    MOP Beauty kembali menghadirkan inovasi terbarunya dengan meluncurkan MaxCara Volumizing & Lengthening Mascara, produk maskara pertama dari MOP yang dirancang untuk memberikan volume maksimal dan extra length dalam sekali pulasan.

    Kehadiran MaxCara menandai langkah baru MOP Beauty dalam memperluas kategori produknya, sekaligus memperkuat komitmennya untuk terus menghadirkan inovasi yang relevan bagi para penggemarnya. Antusiasme publik pun luar biasa. Pada hari pertama peluncurannya, penjualan MaxCara berhasil menembus angka lebih dari Rp1 miliar, membuktikan bahwa inovasi ini telah mendapat sambutan hangat dari pecinta beauty di Indonesia.

    MaxCara dirancang dengan formula Quick-Fit & Vivid Coloring yang menghasilkan tekstur ringan, halus dan warna hitam yang pekat. Selain memiliki daya tahan hingga 24 jam, MaxCara juga waterproof, zero smudge dan tidak menggumpal. Sehingga ideal untuk digunakan dari pagi hingga malam hari, bahkan di kondisi paling ekstrem sekalipun.

    Tidak tanggung-tanggung, MOP juga meluncurkan MaxCara Remover, pembersih maskara yang secara khusus diformulasikan untuk mengangkat MaxCara dengan lembut namun efektif. Kombinasi keduanya akan memberikan pengalaman lengkap: tampilan mata yang dramatis, tanpa kompromi pada kenyamanan saat membersihkannya.

    “Finally MOP meluncurkan produk yang sudah ditunggu-tunggu, yaitu MaxCara! Untuk kamu yang mau buat look super extra, bold, volumizing and lengthening, ataupun kamu yang mau buat look natural, namun tetap volumizing and lengthening, MaxCara adalah jawabannya. Hanya dengan satu maskara, tapi kamu bisa mendapatkan dua hasil yang berbeda. Walaupun maskara ini tahan banting dan transferproof, tapi jangan khawatir karena kami juga menghadirkan MaxCara Remover—hanya dengan satu swipe, maskara langsung terhapus dengan mudah” ujar Tasya Farasya, Founder & CEO, MOP Beauty.

    Langkah ini merupakan bagian dari komitmen MOP untuk terus berevolusi dan menjawab kebutuhan nyata para penggunanya. Setelah sebelumnya menghadirkan berbagai produk untuk kategori eye makeup, kini MOP melengkapi rangkaian tersebut dengan MaxCara—sebuah inovasi yang dirancang untuk memberikan tampilan mata yang berkarakter. (Red. Elmediora | Foto: Dok. MOP Beauty)

     

  • The Balvenie Bersama Studio Lianggono Persembahkan The Makers Project di Bali

    The Balvenie Bersama Studio Lianggono Persembahkan The Makers Project di Bali

    Sebagai partner utama Jia CURATED 2025, The Balvenie menghadirkan The Makers Project di Bali, berkolaborasi dengan seniman multidisipliner Indonesia, Lianggono dari Studio Lianggono. Berakar pada wujud apresiasi akan craftsmanship yang telah teruji oleh waktu, kolaborasi istimewa ini menghadirkan Wang Sinawang. Sebuah instalasi penuh makna yang terinspirasi dari Five Rare Crafts The Balvenie, di antaranya Home Grown Barley dan Malting Floor.

    Berlokasi di pusat kreatif Bali Festival Park dari tanggal 14 hingga 18 Agustus, kolaborasi ini membuka perspektif baru akan pembuatan whisky terbaik yang direpresentasikan melalui kreativitas dan craftsmanship dari industri seni dan desain di Indonesia.

    Melanjutkan komitmennya terhadap tradisi, The Balvenie terus mengumandangkan Five Rare Crafts melalui kampanye tahunannya, The Makers Project. Sebagai satu-satunya distillery di Skotlandia yang menerapkan Five Rare Crafts dalam pembuatan whisky—Home Grown Barley, Malting Floor, Copper Stills, Cooperage, dan bimbingan dari Malt Master. Setiap botol menjadi cerminan dari waktu, ketelitian, dan tangan-tangan terampil yang membentuknya.

    “Wang Sinawang merupakan sebuah istilah Jawa yang bercerita akan keindahan waktu berproses. Mengajak kita untuk menunggu tanpa terburu, melihat, merasakan, dan mengapresiasi. Keindahan tidak hanya terletak pada apa yang diciptakan, tetapi juga pada bagaimana sesuatu itu dibuat—dibentuk oleh proses, oleh waktu, dan oleh keterampilan tangan manusia yang tidak dapat tergantikan oleh mesin. Melalui repetisi dan dedikasi, menjadi sebuah wujud cinta,” ungkap Lianggono dari Studio Lianggono, saat menceritakan karyanya untuk The Makers Project bersama The Balvenie.

    Seperti whisky, seperti ingatan—beberapa hal terbentuk bukan karena kecepatan, tetapi karena kehadiran. Justru dengan menunggu, kita belajar untuk benar-benar melihat. Di instalasi ini, para tamu diajak untuk melambat sejenak dan meresapi lingkungan imersif yang dipenuhi tekstur alami, ritme suara, dan visual berlapis. Setiap elemen menggemakan ritme berulang yang tenang, ketekunan, dan keterampilan yang membentuk setiap langkah dalam pembuatan whisky.

    Untuk menandai peluncuran The Makers Project di Bali, sebuah acara whisky dinner yang intim digelar pada tanggal 13 Agustus di area The Balvenie, khusus bagi tamu undangan terkurasi. Malam tersebut menampilkan menu khas Nusantara yang dikreasikan oleh Chef Wayan Kresna Yasa dari Kaum Restaurant, dipadukan dengan rangkaian single malt terbaik dari The Balvenie. Dipandu oleh Jyri Pylkkänen, South East Asia Regional Malts Brand Ambassador dari William Grant & Sons, sesi tasting dimulai dengan The Balvenie DoubleWood 12 Year Old, yang dikenal dengan cita rasa manis, nutty flavor, dan rempah yang lembut. (Red. Elmediora | Foto: Dok. Studio Lianggono)

     

  • LAKON Indonesia Usung Warisan dan Inovasi ke Panggung Utama Osaka World Expo 2025

    LAKON Indonesia Usung Warisan dan Inovasi ke Panggung Utama Osaka World Expo 2025

    LAKON Indonesia kembali menorehkan langkah besar di panggung internasional dengan tampil di Osaka World Expo 2025, Kansai, Jepang, salah satu ajang bergengsi dunia yang menjadi sorotan global. Melalui kekuatan desain, craftsmanship, dan narasi budaya, LAKON Indonesia mempersembahkan karya yang mengangkat warisan tekstil Nusantara ke mata dunia.

    Puncak penampilan terjadi pada 8 Agustus 2025 di Unified Diversity Fashion Show – SOROYURU, yang berarti “harmoni dalam perbedaan” dalam bahasa Jepang. Acara ini diselenggarakan oleh Jellyfish Pavilion dan berlangsung di WASSE (Expo Exhibition Centre). Dalam momen ini, LAKON Indonesia mengangkat kekayaan warisan tenun dari Nusa Tenggara Barat, menampilkan koleksi yang memadukan teknik tradisional dengan sentuhan desain kontemporer.

    Kolaborasi Inovasi dan Keberlanjutan

    Untuk perhelatan ini, LAKON Indonesia berkolaborasi dengan Comfiknit, brand asal Hong Kong yang dikenal dengan inovasi tekstil berkelanjutan. “Kolaborasi ini lahir dari konsistensi membangun ekosistem fesyen yang kreatif dan berdaya saing. Ini bukti bahwa usaha kami mendapat pengakuan global,” ujar Thresia Mareta, pendiri LAKON Indonesia sekaligus Advisor JF3.

    Rangkai Keberagaman di Panggung Global

    Unified Diversity Fashion Show – SOROYURU mempertemukan koleksi dari sembilan negara, menjadi perayaan mode di mana tradisi bertemu inovasi. “Bagi kami, Soroyuru adalah lebih dari sekadar presentasi karya. Kami membawa identitas Indonesia ke panggung global, ikut menulis cerita tentang keberagaman. Saat budaya saling menghargai, yang terlahir bukan hanya keindahan, tetapi juga harapan akan masa depan yang lebih harmonis,” tambah Thresia.

    Peran Strategis Osaka World Expo 2025

    Selain tampil di Soroyuru, LAKON Indonesia bersama JF3 Fashion Festival menghadirkan tiga brand alumni PINTU Incubator: Senses, Apakabar, dan Fuguku dalam rolling exhibition pada 4-10 Agustus 2025 di Paviliun Indonesia. Sebanyak 12 koleksi unggulan ditampilkan, memadukan desain, keterampilan tangan, dan nilai budaya Indonesia.

    Sejalan dengan partisipasi ini, LAKON Indonesia juga menghadirkan pop-up store di Lucua Umeda, salah satu pusat perbelanjaan premium di Osaka, dari 7 hingga 13 Agustus 2025. Kehadiran ini memberikan kesempatan bagi publik Jepang untuk merasakan langsung kualitas dan karakter desain LAKON, sekaligus memperkuat positioning brand di pasar internasional.

    Kehadiran LAKON Indonesia di Osaka World Expo 2025 menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia yang memperluas jejaring industri kreatif global sekaligus membuka peluang pasar baru bagi fesyen Indonesia di Jepang.

    Pengakuan Internasional

    Di ajang ini, Thresia Mareta tampil bersama desainer ternama Jepang, Shinshiro Mizuno, sebagai perancang busana Soroyuru. Mizuno dikenal pernah bekerja dengan Givenchy, Hanaemori, Yuki Tori, John Galliano, dan Alexander McQueen, serta memiliki brand[fuse] dan brand gaun pengantin berlisensi Givenchy.

    Thresia Mareta adalah pendiri LAKON Indonesia, sebuah ekosistem fesyen yang menghubungkan perajin, desainer, dan pelaku industri kreatif untuk menjaga, mengembangkan, dan menyesuaikan craftsmanship Indonesia agar tetap relevan di panggung mode modern, baik di tingkat nasional maupun internasional. (Red. Elmediora | Foto: Dok. LAKON Indonesia)

     

  • ILF & IGT Expo 2025 Hadirkan Inovasi Terbaru untuk Industri Kulit dan Alas Kaki

    ILF & IGT Expo 2025 Hadirkan Inovasi Terbaru untuk Industri Kulit dan Alas Kaki

    Indo Leather & Footwear (ILF) Expo 2025, yang memasuki tahun ke-18, kembali hadir sebagai pameran internasional terkemuka dan ajang strategis bagi industri kulit dan alas kaki. Digelar pada 14–16 Agustus 2025 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, pameran ini bersamaan dengan Indo Garment Textile (IGT) Expo 2025, menampilkan lebih dari 280 peserta termasuk 70 UMKM, serta diikuti pelaku industri dari 11 negara: China, Hong Kong, India, Indonesia, Italia, Jerman, Korea Selatan, Malaysia, Swiss, Taiwan, dan Vietnam. Ajang ini menargetkan 15.000 pengunjung dari dalam dan luar negeri.

    Indo Leather & Footwear (ILF) dan Indo Garment Textile (IGT) Expo 2025 siap menjadi panggung bergengsi yang memamerkan inovasi terbaik di industri alas kaki, produk kulit, garment, tekstil dan teknologi manufaktur terkini. Beragam produk unggulan mulai dari mesin jahit modern, mesin cetak sepatu, mesin pengolahan bahan baku, fabric dan tekstil premium, sol sepatu, aksesori fashion, sneakers, boots, flat shoes, sandal, hingga kulit eksotik untuk fashion, furnitur, dan garment semua hadir dalam satu ajang bisnis yang penuh inspirasi dan peluang kolaborasi.

    Pameran ini akan diresmikan oleh Menteri Perindustrian yang diwakili oleh Staf Ahli Menteri Bidang Penguatan Kemampuan Industri Dalam Negeri, Bapak Adie Rochmanto Pandiangan, serta oleh Deputi Bidang Wisata Kementerian Pariwisata, Bapak Drs. Vinsensius Jemadu.

    Dalam sambutannya pada pembukaan pameran, Daud D. Salim, CEO Krista Exhibitions, menyampaikan: “Indo Leather & Footwear (ILF) dan Indo Garment Textile (IGT) Expo 2025 hadir sebagai wadah yang menyatukan ide kreatif, kemajuan teknologi, dan potensi kerja sama bisnis untuk menciptakan peluang baru bagi pertumbuhan industri. Di sinilah para pelaku industri dapat saling menginspirasi, menjalin kemitraan, dan menemukan terobosan yang relevan dengan tren global.

    Indonesia memiliki potensi besar di sektor kulit dan alas kaki, dan kami ingin memastikan potensi ini berkembang menjadi kekuatan yang diakui dunia.Daud D. Salim menambahkan, “Melalui ILF dan IGT Expo 2025, kami berharap tercipta kolaborasi yang memperkuat rantai pasok dari hulu ke hilir, mendorong inovasi berkelanjutan, dan membuka akses pasar yang lebih luas. Pameran ini adalah wujud komitmen kami untuk mengangkat industri dalam negeri agar semakin kompetitif di kancah internasional. Karena itu, kami mengundang seluruh pelaku usaha, pembeli, desainer, dan pecinta produk kulit serta alas kaki untuk hadir dan menjadi bagian dari momentum penting ini.”

    Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia ke-80 sekaligus melestarikan kebudayaan batik dan kebaya, Indo Leather & Footwear (ILF) dan Indo Garment Textile (IGT) Expo 2025 menghadirkan berbagai acara unggulan, salah satunya Kontes Busana Hari Kemerdekaan: Kebaya & Batik. Acara ini merupakan hasil kolaborasi antara PERWANTI, Krista Exhibitions, dan PSMTI (Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia), didukung oleh Sekar Ayu Jiwanta, serta menampilkan fashion show eksklusif dari BRUTUS & BURGO. (Red. Elmediora | Foto: Dok. Krista Exhibitions)

  • Sambut 80 Tahun Kemerdekaan RI, Plataran Indonesia Kuatkan Posisi Pariwisata Indonesia Mendunia

    Sambut 80 Tahun Kemerdekaan RI, Plataran Indonesia Kuatkan Posisi Pariwisata Indonesia Mendunia

    Sebagai pelopor dan leader dari the Home of Next Level Indonesian Hospitality yang konsisten meraih berbagai penghargaan nasional dan internasional bergengsi, Plataran Indonesia, sebagai perusahaan nasional yang merupakan National Pride Company, meluncurkan tema “Pariwisata Indonesia Yang Mendunia” dalam rangka menyambut ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-80 pada tanggal 17 Agustus 2025.

    Hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-80 di bulan Agustus kali ini terbilang unik, karena bertepatan dengan masa awal kepemimpinan Presiden RI ke-8 yang sering dikonotasikan dengan angka 8. Oleh karenanya, pada tanggal 8 Agustus 2025 (08-08-2025), Plataran Indonesia juga akan meresmikan dibukanya Plataran Makassar—The Next Level Makassar— yang akan menjadi salah satu pilihan venue & dining terbaik di Makassar. Melengkapi berbagai industri F&B dan MICE yang telah hadir di Makassar sebagai business hub di kawasan Indonesia Timur.

    Selama kurun waktu 16 tahun perjalanannya, setiap aktivitas operasional Plataran dilandasi pada DNA yang konsisten dalam membangun industri pariwisata Indonesia berkelanjutan bersama pemerintah dan pelaku pariwisata lainnya. Dalam konteks Plataran Indonesia incorporated melalui pendekatan Alam – Budaya – Manusia Indonesia yang terintegrasi dalam platform Plataran Indonesia, The Home of Next Level Indonesian Hospitality, di kancah nasional dan internasional.

    Plataran Indonesia sangat bersyukur dan berterima kasih pada masyarakat dan seluruh pendukung unit usaha Plataran pada Resorts, Hotels, National Parks, Venue & Dinings, MICE, serta Private Cruises. Dari ujung Barat sampai dengan Timur Indonesia serta Tokyo, atas kepercayaan dan brand militancy yang diberikan pada Plataran. Yozua Makes selaku Founder dan CEO Plataran menyatakan, “Plataran akan terus bertumbuh dan berkembang dengan membawa semangat keberlanjutan pariwisata Indonesia di arena nasional dan global dengan tingkat standard world private personal hospitality services yang mengakar pada kebudayaan Indonesia dan untuk kebanggaan Indonesia dan masyarakatnya.”

    Berikut adalah beberapa milestone dari kiprah Plataran Indonesia hingga kuartal ke-3 tahun 2025. Antara lain, pembukaan berbagai gerai Teras by Plataran sebagai the Next Level Casual Dining di berbagai pusat perbelanjaan ternama maupun lokasi independen dengan mengusung tagline “Nikmatnya Pas”.

    Termasuk berperan dalam berbagai agenda MICE berskala nasional dan internasional, baik melalui berbagai unit Venue & Dining ataupun melalui Plataran Catering Services. Ditandatanganinya berbagai kolaborasi dengan mitra kerja ternama seperti Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) dan developer sebagai bagian dari pipeline projects Plataran, serta peluncuran Plataran – BRI UMKM Ecosystem. Kemudian, diresmikannya Rahita Holistic Wellness by Plataran yang merupakan holistic seamless experience dan next level wellness yang berpusat di Plataran Puncak. (Red. Elmediora | Foto: Dok. Plataran Indonesia)